4.904 Ekor Sapi di Bandung Barat Terpapar PMK, Susunya Berkurang Bikin Peternak Merugi Besar
Menyebarnya wabah penyakit mulut dan kuku yang menyerang ribuan ternak di KBB menyebabkan peternak mengalami kerugian yang besar,
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Darajat Arianto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Menyebarnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ribuan ternak di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyebabkan peternak mengalami kerugian yang cukup besar.
Seperti diketahui, hingga saat ini jumlah hewan ternak di Bandung Barat yang terpapar PMK mencapai 4.904 ekor yang tersebar di 14 kecamatan dengan populasi yang paling banyak di Kecamatan Lembang, Parongpong, dan Cisarua.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Undang Husni Tamrin mengatakan, jika dihitung dari pertama adanya kasus hewan ternak terpapar wabah PMK pada 27 Mei 2022 lalu, total kerugian yang dialami semua peternak mencapai Rp 8,7 miliar.
"Kurang lebih selama masa PMK ini, untuk sapi perah saja ada kerugian Rp 8,5 miliar," ujar Undang di kantornya, Selasa (21/6/2022).
Ia mengatakan, jumlah kerugian itu tercatat dari hasil hitungan para peternak yang mengalami kerugian dari menyusutnya produksi susu sapi perah selama wabah PMK.
"Ini belum dilaksanakan secara empiris, tapi kita turun ke lapangan dan menginput data hewan terjangkit PMK yang masuk," katanya.
Undang mengatakan, spekulasi kerugian tersebut dihitung dari satu ekor hewan terpapar PMK yang pemiliknya harus menanggung kerugian sebesar Rp 3,5 juta.
Baca juga: Vaksinasi Hewan Ternak di Kabupaten Bandung Digeber, Antisipasi PMK, Dapat 500 Dosis
"Dari satu sapi dengan siklus 14 hari saja, mulai dari turun produksi dan pengobatan itu kita hitung sekitar Rp 3,5 juta per ekor," ucap Undang.
Undang mengatakan, angka kerugian itu juga dilihat dari biaya perawatan hingga penyusutan produksi susu bagi sapi perah dan penyusutan bobot daging bagi sapi potong.
"Karena PMK ini akan menurunkan bobot badan dan juga akan menurunkan jumlah susu yang dihasilkan sekitar 75 persen," ujarnya.
Dengan adanya kerugian yang cukup besar itu, pihaknya meminta para peternak melakukan upaya pencegahan baik dari kebersihan kandang maupun kesehatan hewan ternak. (*)