Rekam Jejak Abdul Qadir Hasan Baraja, dari Mantan Anggota NII sampai Pengeboman Candi Borobudur

Namun, hasil penyelidikan pihak kepolisian, Abdul Qadir selaku orang nomor satu di kelompok tersebut terbukti bertentangan dengan Pancasila

Editor: Ravianto
Kanal YouTube Khilafatul Muslimin
Abdul Qadir Baraja pimpinan Khilafatul Muslimin. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdi Ryanda Shakti

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Polisi menyebut pimpinan tertinggi Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja hingga pimpinan wilayah sempat mengaku melalui media jika pro-NKRI dan Pancasila.

Namun, hasil penyelidikan pihak kepolisian, Abdul Qadir selaku orang nomor satu di kelompok tersebut terbukti bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Baca juga: Uang Khilafatul Muslimin Dinilai Sangat Besar, Dari Mana Sumbernya? Polisi Masih Selidiki

Baca juga: Khilafatul Muslimin Sebarkan Konten-konten yang Bertentangan dengan Pancasila, Pemimpinnya Ditangkap

"Apa yang disampaikan pemimpin tertinggi atau pemimpin wilayah di media bahwa selama ini dia mendukung pancasila NKRI, dalam faktanya hasil penyelidikan kami dan penyidikan kami justru ini kontradiktif justru bertentangan dengan Pancasila," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (7/6/2022).

Faktanya, Hengki menyebut kelompok tersebut menyebarkan kebohongan yang dapat membuat onar di masyarakat.

"Pertama kita lihat websitenya, ternyata di situ ada videonya, ada artikelnya setelah dianalisis dari berbagai ahli, ahli literasi ideologi islam, bahasa, pidana, ahli psikologi massa bahwa ini memang memenuhi delik daripada UU Ormas yang bertentangan Pancasila itu," ucapnya.

Ada sejumlah video di dalam website milik kelompok tersebut yang menyebarkan kebohongan mulai tentang Pancasila dan UUD 1945 hingga soal Kyai di zaman demokrasi.

"Sebagai contoh di sana salah satu videonya menyatakan bahwa Pancasila dan UU 1945 itu tidak akan bisa bertahan lama. Demokrasi bisa dilaksanakan apabila dengan senjata, kyai di zaman demokrasi banyak bohong. Kemudian Islam tidak ada toleransi," ungkapnya.

Libur panjang banyak dimanfaatkan sejumlah warga untuk mengunjungi sejumlah tempat wisata, salah satunya mendatangi kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (13/3/2021). Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Libur panjang banyak dimanfaatkan sejumlah warga untuk mengunjungi sejumlah tempat wisata, salah satunya mendatangi kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (13/3/2021). Tribun Jateng/Hermawan Handaka (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)

Selain website, lanjut Hengki, kelompok itu juga mempunyai percetakan buletin alias majalah yang terbit setiap bulannya.

"Kami analisis buletin yang sampai sekarang 80 edisi setiap bulan muncul, ada percetakannya ada dari seleberannya ada website dari artikel-artikelnya kami akan kembangkan terus karena sifatnya berkesinambungan penyidikan kita," imbuhnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya baru saja menangkap petinggi kelompok Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja di Lampung, Selasa (7/6/2022).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan menerangkan penangkapan ini terkait konvoi khilafah yang terjadi di Cawang, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Diketahui, konvoi pesepeda motor dengan poster bertuliskan kebangkitan khilafah dan bendera dengan aksara Arab itu terjadi pada Minggu (29/5/2022).

"Ya ada kaitannya itu kan pak kapolda juga sudah bentuk tim khusus juga untuk mengusut hal itu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan saat dihubungi, Selasa (7/6/2022).

Dari data yang ada, Abdul Qadir Baraja ternyata merupakan eks narapidana terorisme.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved