Budayawan Sunda Ungkap Nilai-nilai Kebajikan dalam Sesajen
"Nurani seseorang yang membuat sesajen itu tidak egois, tapi justru berpikir untuk keselamatan makhluk hidup lainnya," ujarnya.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG- Mirsi Insani (34) begitu tersentuh melihat penataan sesajen dalam peringatan 100 hari meninggalnya anak seorang budayawan Sunda.
Ia melihat orang-orang khusyuk menata sesajen tersebut. Lulusan pendidikan berbasis agama itu baru pertama kali menyaksikan pemandangan seperti itu.
"Aku melihatnya seperti ada ruang spiritualias di agama lain. Tidak ada penolakan dalam diri dan aku senang lihatnya karena ada ketulusan di dalamnya," ujarnya saat ditemui di Mandja Coffee, Jalan Riau, Kota Bandung, Minggu (17/4/2022).
Menurut Mirsi, kehadiran sesajen di lingkungannya sama sekali tidak mengubah sesuatu dalam dirinya.
Sebenarnya, rasa ingin tahu Mirsi akan keyakinan agama lain muncul sejak duduk di bangku pendidikan berbasis agama.
Minimnya informasi dan larangan mengakses gawai di dalam lingkungan itu membuat Mursi rajin ke perpustakaan untuk memuaskan rasa penasaran.
Baca juga: Bukan untuk Jurig, Ini Makna Kambing Hitam dan Sesajen Dalam Nadar di Gunung Batu Lembang
"Dunia pendidikan semestinya mengajarkan soal keagamaan lain dengan cara pandang berbasis keindahan. Selama menjadi santri, aku belajar agama lain, tapi sudah tentu pelajaran yang disuguhkan dalam bentuk perspektif agama tertentu dan sangat singkat," ujar Mirsi.
Menurutnya, setiap agama mengajarkan kebaikan dan kebaikan itu tidak bisa dibatasi hanya karena labelnya berbeda.
Dalam sesajen, ada berbagai jenis hasil alam di antaranya pisang, kumpulan bunga atau kembang sataman, umbi-umbian, telur ayam kampung, air kopi, air teh, dan air mineral.
"Dari sesajen ini, (kita) justru mengenang kembali untuk menghormati nilai-nilai kebajikan yang pernah diajarkan dengan harapan nilai-nilai ini bisa dilakukan kembali di hari ini," ujar Mirsi.
Anggapan negatif soal sesajen memang masih hidup di masa modern saat ini.
Budayawan Sunda, Lucky Hendrawan, mengatakan sesajen diambil dari kata Sastra Jendra Hayuningrat. Artinya adalah sastra yang bukan berupa aksara, bukan berupa tulisan, juga bukan sastra yang bisa bersuara.
"Sesajen merupakan konstelasi energi yang melahirkan vibrasi di semesta sebagai ruang energi," ujar Lucky Hendrawan saat ditemui di kediamannya, di Jalan Bukit Dago Selatan, Sabtu (2/4/2022).
Baca juga: Sesajen Kepala Kambing dan Bunga Tujuh Rupa Untuk Bupati, Massa Tolak Tambang di Karawang Selatan
Melalui sesajen, ucapnya, para leluhur sudah mampu mengolah cara berkomunikasi di ruang kecerdasan semesta sehingga memicu energi dan banyak partikel yang mengubah banyak hal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sesajen-berisi-hasil-bumi-dalam-sebuah-upacara-adat.jpg)