Riwayat Banjir Bandang di Citengah Sumedang, Jarang Terjadi Sebelum Ada Bangunan Liar
Banjir bandang bisa dipicu dua hal. Selain karena curah hujan tinggi, juga karena adanya bangunan-bangunan liar di kawasan hulu.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Otong Sumarna, Kepala Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, berkisah tentang penelusurannya terhadap riwayat banjir di Citengah.
Diketahui, banjir bandang terjadi di Citengah pada Rabu (4/5/2022) dan menelan korban. Seorang wisatawan hilang terseret arus.
Otong sendiri menelaah riawat banjir itu dengan cara mewawancarai sejumlah sepuh di Desa Citengah yang terkenal asri, sejuk, dan tak pernah kekurangan air bersih itu.
Baca juga: Kawasan Wisata Citengah Sumedang Bisa Dibuka Kembali, tapi Syarat Ini Harus Terpenuhi
"Betul ini tahun kedua banjir. Sebelumnya terjadi di tahun 2021. Saya tanya kepada sepuh-sepuh, kepada saksi hidup desa ini, dulu sebelum banyak bangunan liar di Margawindu, tak pernah ada banjir bandang," kata Otong di Citengah, Jumat (6/5/2022).
Otong mengatakan, banjir bandang bisa dipicu dua hal. Selain karena curah hujan tinggi, juga karena adanya bangunan-bangunan liar di kawasan hulu.
"Namun, dahulu juga pernah ada banjir. Pernah banjir di tahun 1987, lalu 1988, lalu 1991, baru 30 tahun kemudian di 2021 dan 2022," katanya.
Dia mengatakan, para pengusaha yang mendirikan bangunan di lahan bekas HGU perkebunan teh Margawindu telah dikumpulkan oleh Pemkab Sumedang.
Mereka dituntut untuk menyelesaikan persyaratan agar usaha mereka berlangsung kembali.
Baca juga: Banjir Bandang di Citengah Terus Berulang, FK3I Sebut Pemkab Sumedang Abai Kelola Lahan Eks-HGU
"Padahal harapan kami, Pemkab Sumedang segera mentertibkan hal-hal itu (Bangli), supaya tidak terjadi banjir lagi," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/area-villa-di-desa-citengah-sumedang-selatan-65.jpg)