Kasus Omicron Terus Meningkat, Begini Cara Menjaga Kesehatan Jantung Tetap Sehat Saat Pandemi

Kasus omicron terus meningkat karena itu perlu menjaga jantung agar tetap sehat saat pandemi

Editor: Siti Fatimah
kompas.com/Intisari-Online.com
ilustrasi jantung 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus omicron di sejumlah daerah di Indonesia mengalami peningkatan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, termasuk menjaga kesehatan tubuh.

Terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit atau komorbid, menjaga kesehatan menjadi sangat penting.

Salah satunya menjaga kesehatan jantung agar tetap sehat dikala pandemi.

Dikutip dari laman resmi UGM, Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menggelar talkshow kesehatan “Jantung Sehat, Aktivitas Lancar” pada Selasa (29/10) pagi secara daring.

Baca juga: Mulai Sekarang Jangan Buang Kulit Jeruk, Bisa untuk Jantung dan Diabetes, Begiini Cara Mengolahnya

Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Kesehatan Jantung Sedunia yang jatuh pada hari itu juga. Talkshow ini digelar melalui platform Google Meet dan juga disiarkan langsung di saluran Youtube Rumah Sakit Akademik UGM.

dr. Firman Fauzan Arief L., Sp.JP., salah satu narasumber, mengatakan Hari Jantung Sedunia tahun ini harus dilewati dengan kondisi pandemi Covid-19. Oleh karenanya, ia menyebut tema yang diangkat kali ini tepat sekali.

Firman menyebutkan terdapat keterkaitan antara Covid-19 dengan kesehatan sistem kardiovaskuler manusia. Hal itu tepatnya dapat menyumbat 90 persen diameter pembuluh darah sehingga infeksi Covid-19 dapat memperparah serangan jantung koroner.

Selain itu, Firman juga menyebut Covid-19 juga dapat mengakibatkan gumpalan di pembuluh darah yang dapat menyumbat di paru-paru. Dampaknya bisa berisiko fatal bagi manusia.

Baca juga: Penyakit Jantung di Usia Muda, Ini Gejala Penyakit Jantung & Cara Mengurangi Risiko Serangan Jantung

“Bagi orang yang memiliki riwayat merokok, apalagi disertai Covid-19 maka akan memperparah serangan jantung coroner dan risiko kematiannya akan berlipat ganda,” terang Dokter Spesialis Jantung RSA UGM.

Sementara itu, Okta Haksaica Sulistiyo, S.Gz., narasumber lain, menyatakan bahwa kondisi pandemi yang memaksa pemerintah melakukan berbagai pembatasan bagi warganya juga memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesehatan jantung.

Hal itu karena adanya pembatasan ini menyebabkan perubahan aktivitas fisik dan pola makan kita.

Perubahan-perubahan tersebut dapat memengaruhi kesehatan kita, termasuk meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler.

Lebih lanjut, sebagai seorang ahli gizi dari RSA UGM, Okta menyebut akibat pandemi ini masyarakat cenderung membeli makanan kemasan yang tahan lama.

Baca juga: Tak Cuma Baik Bagi Pencernaan, Daun Talas Juga Bisa untuk Jantung, Begini Cara Mengolahnya

Hal itu akhirnya mengakibatkan penambahan berat badan dan pengurangan asupan anti oksidan.

“Pengurangan anti oksidan menyebabkan meningkatnya stres oksidatif yang meningkakan pula risiko hipertensi dan penyakit jantung lainnya,” Katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved