Arteria Dahlan Minta Maaf, Dedi Mulyadi : Hade Lah, 17 Januari Jadi Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Anggota DPR RI Arteria Dahlan secara terbuka telah menyampaikan permintaan maaf terkait penyataannya yang diangga

Editor: Ichsan
dok.dedi mulyadi
Dedi Mulyadi 

TRIBUNJABAR.ID - Anggota DPR RI Arteria Dahlan secara terbuka telah menyampaikan permintaan maaf terkait penyataannya yang dianggap menyudutkan bahasa Sunda dan membuat marah orang Sunda.

Tokoh Sunda yang juga anggota DPR RI Dedi Mulyadi menilai permintaan maaf tersebut sebagai cermin dari sikap hidup yang mulai bisa menerima perasaan orang lain saat seseorang terluka.

“Tapi bagi saya bukan pada persoalan permintaan maaf atau tidak minta maaf, karena biasanya di Indonesia dicerminkan dengan eskalasi atau perkembangan protes atau tekanan yang berakibat pada orang akan terkuras reputasinya atau merugikan kelembagaan sehingga itu perlu dilakukan (maaf),” ujar Kang Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi tidak cukup bagi seseorang hanya memiliki kepandaian namun hal itu harus dibarengi dengan adab. “Tetapi ya harapan kita setiap orang memiliki intelektual yang cukup dan adab yang baik,” katanya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Nilai Nasionalisme Arteria Dahlan Jakarta Sentris, Tak Mengerti Peradaban Setiap Daerah

Dedi pun mengingatkan terkadang banyak yang beranggapan bahwa anggota DPR derajatnya lebih tinggi dibanding yang lain. Padahal hal itu tidak tepat sehingga sikap arogansi seperti itu harus mulai dihilangkan dari seluruh anggota DPR RI.

Seharusnya, kata Dedi, anggota DPR bisa mewakili masyarakat dan harus menunjukkan sikap keterwakilan. Sehingga sikap arogansi hanya harus ditunjukkan pada individu, kelompok, instansi atau koorporasi yang merugikan masyarakat.

“Kita harus menghilangkan sifat arogansi karena bagaimana pun kita memiliki sifat keterwakilan. Kalau keterwakilan tidak terwakili dalam sikap dan tindakan maka kita menjadi terbang ke langit dan tidak menginjak ke tanah,” ujarnya.

“Kalau kata orang Sunda mah ka luhur teu siungan ka handap teu akaran. Maka karakter itu karakter hantu. Karena karakter hantu dalam hidupnya hanya bisa menakuti dan menjadi ilusi tapi tidak bisa berbuat dalam karya yang nyata,” kata Dedi.

Di sisi lain Dedi menilai pernyataan Arteria terkait Sunda justru berdampak positif karena menyatukan emosional masyarakat khususnya suku Sunda. Selain itu gaduh yang terjadi seolah mengisyaratkan bahwa tidak perlu takut untuk berbicara bahasa Sunda baik itu di podium, rapat atau dalam rangka dinas lain.

Baca juga: Polsuska Ngadu ke Dedi Mulyadi Tertipu Investasi Bodong Sultan Bekasi Rp 25 M, Polisi Kudu Bertindak

Selama ini, menurut Dedi, banyak orang tidak berani berbicara Sunda karena takut bahasa yang digunakan kasar. Padahal hal tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran karena bahasa Sunda sangat beragam mulai dari Sunda Banten, Sunda Priangan, Sunda Betawi dan Sunda Cirebonan.

“Terus ajarkan anak-anak kita bahasa Sunda. Kita marah ketika bahasa Sunda seperti itu (diusik), tapi kita tidak pernah ngomong pakai bahasa Sunda. Teu wani ngomong di imah, di kantor atawa di luar make bahasa Sunda. Jadi leungitna bahasa Sunda kusabab urang teu ngajarkeun bahasa Sunda ka anak incu,” kata mantan Bupati Purwakarta itu.

Terakhir Kang Dedi Mulyadi pun mengucapkan terima kasih pada Arteria Dahlan yang membuat orang Sunda kini menjadi satu secara emosional dan seolah mengingatkan untuk berani berbahasa Sunda.

“Hade lah. Jadi pernyataan sahabat saya Bang Arteria Dahlan pada tanggal 17 Januari 2022 di RDP bersama Kejagung menjadi pemicu semangat dan kebersamaan orang Sunda. Gerakan ketersinggungan ini menjadi spirit bagi orang Sunda. Spiritnya tanggal 17 Januari 2022 hari kebangkitan bahasa Sunda karena di hari itulah orang Sunda terpacu emosinya untuk marah dan tidak hanya cukup marah tapi mulai sekarang jangan takut ngomong bahasa Sunda. Tanggal 17 Januari 2022 hari kebangkitan bahasa Sunda,” kata Kang Dedi Mulyadi.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved