Keberadaan AR Dalang Investasi Bodong di Cianjur Belum Diketahui, Korban Dirugikan Rp 4,1 M
AR perempuan dalang investasi bodong diketahui pernah kuliah manajemen di Cianjur.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: taufik ismail
TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Keberadaan AR perempuan yang disebut warga Cianjur diduga melakukan investasi bodong dan menimbulkan kerugian hingga miliaran belum diketahui.
Namun Humas sebuah universitas swasta di Cianjur membenarkan jika AR sempat kuliah di universitas tersebut.
Ia menggarisbawahi dan mengklarifikasi apa yang dilakukan AR saat ini sudah tidak ada sangkut pautnya dengan universitas karena sudah lulus.
"Segala tindakan yang bersangkutan tidak ada sangkut pautnya dengan kami. Jadi mohon tidak menyertakan nama lembaga kami," ujar VN saat dihubungi melalui telepon selular, Minggu (16/1/2022) sore.
Ia mengatakan, tak mengetahui keberadaan AR setelah lulus dari jurusan manajemen universitas tersebut.
"Tidak tahu sekarang di mana, yang jelas apapun tindakan penyimpangan hukum yang dilakukan oleh yang bersangkutan tidak ada sangkut pautnya dengan institusi kami," katanya.
Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Septiawan Adi mengatakan pihaknya belum menerima koordinasi dari Polda Jabar terkait adanya perempuan asal Cianjur yang diduga melakukan investasi bodong.
"Jika lapornya ke sana yang menangani pasti Polda Jabar," ujar Septiawan Adi.
Korban Rugi Rp 4 Miliar
Puluhan member arisan dan investasi online, melaporkan seorang perempuan berinisial AR ke Polda Jabar, Jumat 14 Januari 2022.
AR diduga melakukan penipuan dengan modus arisan dan investasi bodong.
Total ada 33 korban yang melapor ke Polda Jabar dengan nilai kerugian sekitar Rp 4,1 miliar.
"Korbannya ada sekitar 700 orang dari berbagai daerah, baru 33 orang korban yang melapor ke Polda Jabar. Dari 33 orang ini nilai kerugiannya Rp 4,1 miliar, berarti ada sekitar 600 sekian orang lagi yang belum lapor," ujar Banggua Togu Tambunan dari Kantor Hukum Banggua Togu Tambunan dan Rekan, saat dihubungi Tribun Sabtu (15/1/2022).
Awalnya, kata Banggua, kliennya yang bernama Anisa, mengikuti investasi pada pertengahan tahun 2021, setelah melihat testimoni di media sosial.
"Kemarin yang investasi pertama masuk Rp 150 juta, ada-lah profit Rp 35 juta. Karena merasa menguntungkan, maka langsung dikirim lagi Rp 500-600 juta, dari situ tiba-tiba macet di bulan kedua, langsung kolaps," katanya.