Cerita Ebeh Halim di Karawang, Warga Menyebutnya si Kades Babu, Kerja pun Pakai Kaos

Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang Abdul Halim dikenal dengan kades babu atau pesuruh.

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Mega Nugraha
Istimewa
Abdul Halim alias Ebeh Halim kades di Karawang yang dikenal sebagai kades babu 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang Abdul Halim dikenal dengan kades babu atau pesuruh.

Dia disapa Ebeh Halim. Dikenal jadi kades babu karena kerap bertindak seperti babu untuk melayani masyarakatnya.

"Saya memang kepala desa, tapi saya tidak pernah menempatkan diri sebagai pejabat. Tidak ada batasan dengan masyarakat dimanapun dan kapanpun," ujar Ebeh Halim, ketika ditemui usai acara silaturahmi Kepala Desa di Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (18/12/2021).

Baca juga: Jadi Kepala Desa 3 Periode, Kades Ini Mengaku Belajar Dari Kisah Umar Bin Khatab

Sehari-hari, saat bertugas sebagai kades, datang ke kantor, seringkali dia hanya memakai kaos dan celana pendek. Sehingga menguatkan imej babu pada Ebeh Halim.

Gaya berpakaian tersebut merupakan cerminan agar masyarakat tidak menganggapnya sebagai pejabat.

"Soal pakaian itu bukan hal utama, yang penting pelayanan. Itu saya lakukan agar masyarakat tidak merasa ada batas atau segan," kata dia.

Ebeh Halim yang dikenal bergaya babu, bahkan kerap kali menangis mendapati masyarakatnya yang tengah mengalami kesulitan.

Ia bercerita tempo hari pernah melihat rumah nenek miskin yang tinggal sebatang kara.

"Saya lihat rumah nenek itu, sambil menangis kemudian saya tendang sampai rubuh, besoknya saya datangkan material bahan bangunan dan meminta agar rumah itu dikerjakan secepat mungkin," kata Ebeh Halim.

Tak hanya itu, bahkan dirinya sempat menjaminkan mobil hanya untuk menjemput warganya yang miskin yang melahirkan cesar di salah satu rumah sakit.

Baca juga: Ratusan Petugas Disiagakan PLN Karawang, Jelang Libur Natal dan Tahun Baru di Tengah Musim Hujan

"Memang dia gak ada BPJS Kesehatan, dia melahirkan cesar, pas pulang dirawat bayi nya ditahan karena nunggak Rp 2 juta. Saya jelas tidak terima, nanti gimana nyusuin bayi nya. Saya datangi rumah sakit itu, saya simpan BPKB mobil saya agar ibu dan bayinya bisa pulang," ungkapnya.

Ebeh Halim mengungkap, hal-hal yang sudah ia lakukan tersebut yang kemudian dicap masyarakat sebagai Kepala Desa yang memimpin bergaya babu.

Sebagai kades, rumahnya sederhana bahkan pernah ambruk akibat terlalu lama termakan usia dan ia belum memiliki cukup uang untuk merenovasi.

"Saya sendiri bilang ini lucu, saya menangis melihat nenek tua tinggal di gubuk, rumah saya sendiri sampai ambruk," imbuhnya.

Ibarat peribahasa, apa yang ditanamnya, itu pula yang dituainya. Beberapa warga desanya yang memiliki cukup rezeki berbondong-bondong datang dan menyumbangkan sejumlah uang untuk Ebeh Halim merenovasi rumahnya.

"Yang nyuruh benerin rumah warga, warga juga yang datang ngantar uang, ada yang Rp 20 juta, ada yang bawa Rp 50 juta. Mereka minta rumah saya diperbaiki dengan model yang lebih bagus," ucapnya.

Tidak hanya itu, baju PDU kepala desa di awal masa jabatannya bahkan dibelikan oleh patungan masyarakat.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved