Breaking News:

Guru Rudapaksa Santriwati

Ketua DPD PSI Bandung Minta Terdakwa Kekerasan Seksual 13 Santriwati Dihukum kebiri Kimia

Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung Yoel Yosaphat minta terdakwa kasus kekerasan seksual terhadap 13 anak dibawah umur dijatuhi hukuman kebiri kimia.

Penulis: Tiah SM | Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
Tribun Jabar / Cipta Permana
Ketua DPD PSI Kota Bandung, Yoel Yosaphat mengikuti rapat kerja di Gedung DPRD Kota Bandung, Kamis (7/10/2021) / Cipta Permana. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung Yoel Yosaphat minta terdakwa kasus kekerasan seksual terhadap 13 anak dibawah umur dijatuhi hukuman kebiri kimia.

Terdakwa yang berinisial HW (36) mengajar di beberapa pesantren dan mengiming-imingi korbannya agar aksi bejatnya terlaksana.

"Predator harus dihukum berat karena korban cukup banyak dan merusak masa depan anak anak," ujar Yoel , Rabu (8/12).

Yoel yang juga Ketua DPD PSI Kota Bandung sangat menyesalkan dan mengutuk terdakwa sebagai guru yang seharusnya melindungi muridnya.

Baca juga: Guru Pesantren di Bandung Rudapaksa 12 Santriwati, Korban Diiming-imingi Jadi Polwan dan Dikuliahkan

Menurut Yoel, jajaran PSI bukan sebagai pengacara korban tapi sebagai pendamping para santriwati yang menjadi saksi karena merasa takut oleh kebiadaban oknum pemilik dan pengurus Pondok Tahfiz Al-Ikhlas, Yayasan Manarul Huda Antapani dan Madani Boarding School Cibiru bernama Herry Wirawan. 

"Kasusnya sudah ditangani sejak beberapa bulan lalu dan para korban sudah memiliki pengacara  jadi PSI hanya mengawal agar korban mendapat perlindungan," ujarnya.

Yoel mengatakan saksi melapor ke PSI bulan September lalu dan PSI memiliki kepedulian terhadap saksi termasuk korban untuk mendapat perlindungan dan keadilan.

Baca juga: 12 Santriwati di Bandung Dirudapkasa Ustaz, TKP-nya di Dua Pesantren, Apartemen Hingga Hotel

Menurut Yoel, setelah mendapatkan laporan dari orang tua saksi, tim dari PSI mendatangi orangtua korban dan ternyata mereka merasa bingung atas nasib anak anak yang jadi korban.

"Dari 13 korban, delapan anak sampai melahirkan kini berada di Garut, hanya satu korban tinggal di Kota Bandung," ujar Yoel.
Yoel yakin jumlah korban lebih dari 13 orang,  makanya diminta Pemkot Bandung ikut membantu para korban. 

"Usia korban 13-16 tahun kini harua mengurus bayi tanpa suami karena korban pelecehan dengan modus sekolah gratis," ujarnya.

Yoel mengaku telah mendatangi Pondok tempat tinggal dan tempat belajar para santriwati. Hasil keterangan dari para tetangga banyak kejanggalan makanya Pemkot harus cek ke lokasi dan minta keterangan dari warga sekitar serta santriwati.

"PSI, peduli dengan nasib korban, saksi dan keluarganya termasuk bayi-bayi yang dilahirkan yang dimana mereka masih dibawah umur harus mempunyai masa depan," ujarnya.

Menurut Yoel, korban termuda 13 tahun melahirkan kini bayinya berusia 1 tahun. 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved