Gara-gara Mantan Kades Tutup Akses Curug Tilu, Nenek Ini Kehilangan Pekerjaannya
Mak Aday (65) dan Mak Mimi (60), keduanya merupakan pedagang dari belasan pedagang di destinasi wisata Curug Tilu yang kini terpaksa harus tutup
Penulis: Irvan Maulana | Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana
TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Terimbas konflik politik, para pedagang di destinasi wisata Curug Tilu, Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta kini hanya bisa gigit jari, pasalnya berdagang adalah satu-satunya mata pencaharian mereka, yang kini terpaksa harus tutup.
Hal itu dialami oleh kedua nenek warga Ciririp yakni, Mak Aday (65) dan Mak Mimi (60), keduanya merupakan pedagang dari belasan pedagang di destinasi wisata Curug Tilu yang kini terpaksa harus tutup akibat akses menuju destinasi wisata tersebut diblokir oleh mantan kades yang kalah dalam Pilkades serentak di Purwakarta pada Oktober 2021 lalu.
Baca juga: Kalah di Pilkades, Mantan Kades Ciririp di Purwakarta Tutup Akses ke Destinasi Wisata Curug Tilu
Ketika ditemui Tribun di lokasi penutupan objek wisata tersebut, keduanya tengah membereskan sisa barang dagangan di gubuk kayu yang dibangunnya untuk berdagang.
"Sekarang tempat ini sudah tutup, emak bingung mau cari uang dimana lagi," ujar Mak Aday sembari mencuci piring bekas daganggnya.
Mak Aday merupakan penjual karedok (gado-gado) dan berbagai makanan ringan yang biasa diburu pengunjung usai asik berenang di Curug Tilu.
Lokasi kios gubuk kayunya terletak berdekatan dengan bibir sungai yang tak jauh dari kolam tempat biasa pengunjung berenang.
Kini persis di depan gubuk kayu tempatnya berjualan sudah terpasang kawat berduri yang membentang, sisi kanan warungnya berdiri kokoh dinding penghalang yang dibangun oleh petahana Kades Ciririp Mahdum beberapa waktu lalu.
Sembari mengais sisa perkakas dagangannya, kedua nenek tersebut lantas pulang dengan keadaan pasrah sembari menyusuri bebatuan yang licin ditengah aliran sungai, sebab jalan utama mereka kini diblokir oleh dinding setinggi dua meter dengan kawat berduri.
Baca juga: Diduga Menggunakan Dana Desa untuk Kepentingan Sendiri, Mantan Kades di Tasikmalaya Ditahan Polisi
"Tadi masuk lewat sungai, karena emak perlu ngambil barang-barang sisa dagangan, kalau dibiarkan di warung nanti habis dimakan tikus," imbuhnya.
Hal serupa dialami Mak Mimi, ia merupakan penjual es dan makanan ringan di destinasi wisata tersebut, kini ia juga harus rela kehilangan mata pencaharian sebagai pedagang kecil di destinasi wisata Curug Tilu.
"Kalau emak dagang es, itu lakukanya juga engak banyak, karena gorengan dan ciki-ciki (makanan ringan) ini cuma titipan," ujar Mak Mimi sembari mengais sisa barang dagangannya.
Keduanya merupakan warga dengan kategori kurang mampu, sebab keduanya tak memiliki penghasilan lain selain berdagang. Padahal hasil berdagang pun tidak begitu banyak.
"Kalau sehari itu hasil dagang paling Rp 50 ribu, kecuali hari minggu, itu bisa sampai Rp 80-100 ribu karena lebih ramai," kata dia.
Dengan penghasilan puluhan ribu, Mak Mimi mampu membiayai kehidupan suaminya yang sudah renta termasuk satu anak bungsunya yang tengah menganggur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mak-aday-dan-mak-mimi.jpg)