Pada Musim Hujan Ini, Kasus DBD di Ciamis Makin Mengganas, Dua Orang Meninggal Dunia

Memasuki musim hujan ini kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Ciamis makin mengganas.

Penulis: Andri M Dani | Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
Pixabay
gejala dan cara pencegahan demam berdarah atau DBD 

TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Memasuki musim hujan ini kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Ciamis makin mengganas.

Selama tahun 2021, sampai akhir November ini, total kasus sudah mencapai 320 kasus dengan jumlah kematian dua orang penderita.

Baca juga: Kasus DBD di Bandung Barat Menurun, Tapi Banyak yang Tidak Terlaporkan ke Dinkes KBB

Kasus tertinggi terjadi selama musim hujan tiga bulan terakhir yakni September, Oktober dan November.

Puncak kasus terjadi bulan November yakni 116 kasus dan seorang penderita meninggal dunia.

Kasus selama bulan November yang mencapai 116 kasus tersebut, lebih dua kali lipat bulan sebelumnya, yakni pada bulan Oktober sebanyak 51 kasus.

Baca juga: Kasus Demam Berdarah di Sumedang Mulai Meningkat, Sudah 5 Orang yang Meninggal Akibat DBD

Meski jumlah penderita DBD pada bulan November mencapai 116 orang , diantaranya seorang penderita meninggal dunia, namun kasus DBD di Ciamis menurut Kabid Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis dr H Harun Al Rasyid belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

“Belum masuk kategori KLB,” ujar Kabid P2P Dinkes Ciamis, dr H Harun Al Rasyid kepad Tribun Senin (6/12).

Dari total kasus DBD di Ciamis selama tahun 2021 sampai akhir November lalu yakni 320 kasus diantaranya 2 meninggal dunia. Rinciannya 156 orang penderita laki-laki dan 164 orang perempuan.

Kejadian terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Ciamis Kota (76 kasus), Imbanagara (57 kasus), Handapherang (27 kasus), Cikoneng (24), Baregbeg (17), Sadananya (15) dan Sindangkasih (12 kasus). Yang merupakan daerah endemis DBD.

Bila diurut  berdasarkan waktu, pada bulan Januari (terjadi 11 kasus), Februari (5 kasus), Maret (6), Aparil (7), Mei (24 kasus, seorang meninggal dunia), Juni (29), Juli (18), Agustus (14), September (39 kasus), Oktober (51 kasus) dan November (116 kasus , seorang meninggal dunia). Bulan Desember belum direkap.

Selama musim hujan sejak September, Oktober kasus DBD meningkat tajam. Puncaknya bulan November lalu, mencapai 116 kasus dengan seorang penderita meningal dunia. Penderita yang meninggal dunia asal Cikoneng, ibu-ibu setelah sempat dirawat di rumah sakit di Tasikmalaya.

Sementara berdasarkan kelompok umur, bayi usia di bawah 1 tahun pun di Ciamis ada yang terjangkit DBD jumlahnya 10 kasus, berikut anak balita usia 1 tahun sampai 4 tahun (22 kasus), anak remaja usia 5 tahun – 14 tahun (64 kasus, seorang meninggal dunia), terbanyak dari kalangan usia produktif (15 tahun sampai 44 tahun ) sebanyak  147 kasus, berikut dari kelompok umur di atas  44 tahun (76 kasus, seorang meninggal dunia).

Kalangan usia produktif (usia 15 tahun sampai 44 tahun) paling banyak terjangkit DBD (147 kasus) dimungkinkan karena mobilitas usia produktif cukup tinggi. Mungkin tertular DBD karena digigit nyamuk aedes aegypti saat berada di sekolah, kantor, tempat umum maupun di rumah masing-masing.

Upaya pemberantasan DBD menurut dr Harun tidak cukup mengandalkan upaya foogging. Paling utama adalah memutus mata rantai penularan dengan pemberantasan sarang nyamuk secara menyeluruh (masiv) dan berkelanjutan. Lewat gerakan PSN dan 3M Plus. Serta pemberantasan jentik nyamuk lewat menamburkan larvisida (abate) serta menguras genangan air 

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved