Selasa, 14 April 2026

Cerita Nelayan Perempuan Pangandaran Arungi Laut Samudera Hindia Hadapi Ombak Tinggi nan Ganas

Sejumlah nelayan perempuan di Pangandaran terjun langsung menjadi seorang nelayan, arungi ombak laut Samudera Hindia.

Penulis: Padna | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Padna
Sejumlah nelayan memilah milah ikan hasil menjaringnya di pantai timur Pangandaran 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Sejumlah nelayan perempuan di Pangandaran terjun langsung menjadi seorang nelayan, arungi ombak laut Samudera Hindia.

Setiap pagi, mereka mengais rezeki dari hasil menjaring ikan di laut yang berada di pantai timur Pangandaran.

Ketika menjaring ikan, menghadapi ombak yang cukup tinggi sudah menjadi tantangannya. Meskipun hasil menjaringnya, kadang tidak seusai yang mereka harapkan. 

Satu perempuan nelayan, Hani (36), menyampaikan, mulai pertengahan di masa Pandemi Covid-19 Ia sudah ikut menjaring ikan di lautan Pangandaran.

Baca juga: Yudha yang Ajak Debat Dedi Mulyadi soal Sampah Diapreasi HMI Purwakarta Namun Tetap Salah

"Saya jadi nelayan, sekitar tahun 2020 akhir, karena kebetulan suami saya saat itu sedang tidak ada kerjaan. Jadi, saya bantu," ujarnya saat ditemui Tribunjabar.id disela sela aktivitasnya di pantai timur Pangandaran, Selasa (23/11/2021) siang.

"Kan wajar, saya membantu mencari uang dengan bekerja seperti ini (menjadi nelayan). Kan banyak juga, ibu - ibu tentangga saya yang lama menjadi nelayan," kata dia.

Meskipun hasilnya tidak menentu, yang penting Ia bisa membantu kebutuhan di keluarganya.

"Ya kadang pulang, sisa bagi hasil kadang saya diberi Rp 30 ribu, Rp 45 ribu, dan kadang dapat Rp 60 ribu. Gimana dapatnya sih, tapi yang penting saya pulang dari laut bawa uang," katanya.

Baca juga: Kata Kuasa Hukum Jika Yoris dan Danu Tersangka Kasus Subang, 3 Orang Dicecar Penyidik Polda Jabar

Selama jadi nelayan menjaring ikan di laut Pangandaran atau perairan Samudera Hindia, dia sudah terbiasa menerjang ombak laut yang tinggi.

"Kalau resiko, dengan ombak laut udah biasa lah, namanya juga kerja semua pasti ada resikonya," ucap Hani. * 

Dia bercerita saat pertama kali terjun menjaring ikan sempat diterjang ombak tinggi dan ditolong oleh teman nelayan lainnya.

"Dulu itu, pertama kali turun menarik jaring itu kan kalau sudah dekat jaringnya kita harus turun ke air laut," katanya.

Tapi, saat Ia pegang tali jaringannya dan kebetulan paling depan, tiba - tiba ombak datang.

"Karena panik, saya sempat lepas tali jaring dan akhirnya hampir terseret ombak. Tapi alhamdulilah, teman dibelakang saya yang sama sedang narik jaring langsung nolong saya," katanya.

"Ya ombaknya kalau sekarang, disebut tidak terlalu besar, karena mungkin sudah biasa. Hanya, dulu saja kayak yang tinggi dan tidak bisa nginjak dasar laut," ucap Hani. *

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved