Berkah Gofood, Jualan Soto Bisa Siang Malam, Makin Laris Manis Berkat Dukungan Program Desa Digital
Hasan dapat berkah Gofood, jualan soto ayam kini bisa siang dan malam. Dukungan Desa Digital makin mudah bangun usaha, pemasaran via online.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Hujan sedang deras saat Hasan (35), pemilik kedai soto ayam, dihampiri pria berjaket warna hijau, Kamis (18/11/2021) sore.
Pria driver ojek online yang menerima pesanan gofood itu, bukan yang pertama. Sebelumnya ada pria serupa yang mendatangi kedai Hasan untuk menjemput dan menghantarkan pesanan itu ke pelanggan.
Tak menunggu lama, tangan lincah Hasan selesai meracik beberapa bungkus soto ayam pesanan pelanggan.
"Sudah dibungkus. Mau tunai atau pakai Gopay?" tanya Hasan kepada pria itu.
Driver online, yang oleh manajemen Gojek juga disebut sebagai mitra UMKM, karena mereka tak semata memberikan layanan jasa mengantar penumpang, tapi juga sebagai reseller makanan, mengeluarkan telepon pintar, lalu memindai barkode pemabayaran via Gopay.
Kedai Soto Ayam sederhana itu masih dikunjungi pemebeli meski hujan, sebagian lainnya pemesan via Gofood.
Sejak hadir layanan pemesanan makanan via aplikasi, Hasan mendapatkan berkah.
Kini dia bisa berdagang pagi dan malam. Hujan yang datang siang dan malam pun tak menjadi halangan serius.
Semula pria kelahiran Gombong yang sejak tahun 2000 merantau ke Kota Bandung itu, hanya berdagang di sore hingga malam hari, di pangkalan di dekat pintu keluar Jalan Sekelimus, Seokarno-Hatta, Kota Bandung.
Setelah bergabung dengan layanan pemesanan via aplikasi, termasuk Gofood, dia memulai lapaknya sejak pagi. Hanya untuk pagi hari dia melayani pemesanan dari rumahnya yang tak jauh dari kedainya.
"Alhamdulillah. Ada saja yang memesan. Jualan jadi dua kali, pagi dan malam," ujarnya.
Di aplikasi Gofood, soto ayam Hasan, dikenal dengan nama Soto Ayam Topten.
Tak Perlu Keluar Rumah
Gofood tak hanya memberi kemudahan dalam mengais rezeki bagi Hasan, tapi juga menjadi penyelamat Sri Muyani (34), warga Kota Bandung, dan anak-anaknya kala sedang lapar, sementara makanan di rumah tak lagi tersedia.
Tinggal di kompleks tak jauh dari pusat jajanan mestinya tinggal keluar rumah, lalu memilih makanan yang menggugah selera.
Namun hujan tak bisa diterobos. Apalagi jika disertai angin. Belum lagi jika suami belum pulang dari kantor dan anak-anak tak bisa ditinggal.
"Kalau sudah malam, masakan habis, hujan, perut lapar, ya Gofood saja," ujarnya.
Gofood, menurutnya, juga menjadi solusi ketika kelurganya harus nurut dengan imbauan pemerintah untuk membatasi mobilitas.
Saat pandemi Covid-19 memuncak pada Juli-Agustus lalu, belama-lama di luar rumah adalah hal yang menakutkan. Ditambah, banyak tetangga di kompleks terpapar Covid-19, berada di rumah menjadi pilihan yang aman.
Lalu bagaimana cara memanjakan lidah di saat bosan dengan menu makanan harian yang tak banyak pilihan?
"Gofood, apalagi kan juga banyak diskon-nya," ujarnya.
Hadirnya aplikasi pemesanan makanan via online itu tak hanya membantu meningkatkan traffick penjualan pedagang, tapi juga solusi masalah yang dihadapi konsumen di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui sampai kapan akan berakhir.
Bangkitkan UMKM
Aplikasi Gofood kini menjadi bagian penting dalam mendorong pemulihan ekonomi masyarakat.
Aplikasi ini memudahkan masyarakat UMKM untuk bisa terus bertahan berjualan di tengah hantaman badai pandemi Covid-19.
Bahkan ketika kedai tutup karena tak lagi mampu membayar sewa tempat, berdagang di rumah pun bisa tetap jalan. Pemasaran masih bisa dilakukan via Gofood.
Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini, telah mengubah prilaku masyarakat. Termasuk cara mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, dilakukan melalui online.
Meski kini pandemi Covid-19 sudah landai, perilaku ini tak akan lagi kembali ke masa sebelum Covid-19.
Maka, para pelaku usaha lah yang harus berubah menyesuaikan dengan perubahan perilaku konsumen.
Di sebuah kesempatan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengajak pelaku usaha UMKM migrasi menuju digitalisasi. Hal ini merupakan hal yang wajib.
Digitalisasi ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan akan surutnya bisnis UMKM imbas pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat.
Ridwan Kamil memberi bukti, pertumbuhan ekonomi kreatif yang tidak berbasis kerumunan (menerapkan digitalisasi) mengalami pertumbuhan sebesar 40 persen di tengah pandemi Covid-19.
“Ada ekonomi kreatif yang tidak berbasis kerumunan itu justru tumbuh. Di Jawa Barat tercatat, industri kreatif yang berbasis digital itu tumbuhnya malah tinggi 40 persen,” papar pria yang akrab disapa Kang Emil dalam diskusi secara virtual, Kamis (2/9/2021).
“Ada juga game developer di Kota Bandung yang pendapatannya naik 4 kali lipat. Ada juga pengusaha pangan yang dia sudah siap dengan supermarket digital-nya, dan pendapatan naik 3 kali lipat,” sambungnya.
Dari adanya contoh kasus tersebut, Emil mengatakan bahwa tidak semua lini bisnis usaha mengalami penurunan kinerja yang signifikan akibat pandemi.
Namun, terdapat pula beberapa bisnis yang mengalami peningkatan.
Oleh karena itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini terus aktif mendorong UMKM untuk mulai memanfaatkan fasilitas digital, terutama dalam upaya mendongkrak pemasaran.
“Pokoknya digital ini adalah kewajiban, bukan pilihan. Covid mengajarkan, siapa yang tidak suka digital, maka dia akan jadi pecundang,” papar Kang Emil.
“Dan siapa yang hijrah dan memahami digital, maka dia akan menjadi pemenang,” jelasnya.
Dukungan Desa Digital
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bertekad menjadikan seluruh warga melek digital. Salah satunya adalah dengan program Desa Digital.
Menurut Ridwan Kamil, lewat program ini diharapkan penguasaan digital tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja. Melainkan masyarakat di desa juga bisa andal menggunakan teknologi digital.
"Digital inklusif jangan sampai pintar digital hanya dikuasai orang kota. Jawa barat bertekad menjadikan Desa Digital sebagai unggulan," kata Ridwan Kamil saat menjadi pembicara Road to Indonesia Digital Conference (IDC) 2021 secara virtual, Selasa (16/11/2021).
Lewat program ini, diharapkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa bisa meningkat. Lewat digital, akses informasi dan ekonomi terbuka lebar hingga ke dunia internasional.
Apalagi, potensi dari ekonomi digital di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data Google, Temasek, dan Bain & Company 2020, total ekonomi digital Indonesia pada 2020 adalah USD44 juta atau setara Rp 631 triliun, dan akan meningkat pada 2025 menjadi USD124 atau setara Rp1.744 triliun.
Potensi ini diperoleh dari tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 196,7 juta pengguna. Dari jumlah tersebut 56 persen di antaranya berasal dari daerah rural atau perdesaan.
"Urgensinya bahwa sekarang kami punya slogan tinggal desa, rezeki kota, bisnis mendunia. Selama ini orang menganggap desa itu tidak bisa setara dengan kota. Oleh karena itu kami gunakan strategi digital itu untuk meyakinkan anak-anak muda tidak usah pergi ke kota tapi cukup di desa saja," jelasnya.
Hasilnya pun mulai terasa, ada beberapa produk asal desa yang kini bisnisnya sudah mendunia. Sebagai salah satu contohnya adalah ada satu produk sabun asal salah satu di Jawa Barat.
Saat berjualan dari rumah ke rumah, omzet yang didapat hanya sekitar puluhan juta. Namun lewat program Desa Digital, kini produk sabun tersebut sudah bisa berjualan hingga lintas negara dan omsetnya meningkat hinggat ratusan juta.
"Sudah tandatangan dengan Shopee, 5.000 desa akan dikasih laptop akan mengakseskan perdagangan desa ke seluruh dunia," kata pria yang kerap disapa Kang Emil.
Contoh lainya adalah kini peternak ikan dapat meningkatkan produksi hingga dua kali lipat. Sebab, kini para peternak ikan ini sudah bisa menggunakan handphone. Biasanya ketika musim hujan peternak kesulitan untuk memberi makan karena khawatir terpeleset di tambak maupun empang.
"Contoh lain kita tidak hanya komunikasi dan jalan kita mengubah cara petani dan peternak berproduksi. Kasih makan ikan sudah memanfaatkan informasi dari handphone," katanya.
"Di Sukabumi cari ikan sudah pakai aplikasi dari Korea, tadinya nyari ikan pake feeling (perasaan) sekarang nyari ikan dikasih tahu waktunya, dimana carinya, panennya naik dua kali lipat," imbuhnya.
Menurut Ridwan Kamil, kesuksesan ini tidak terlepas dari empat pilar yang dijalankan untuk mendukung program Desa Digital. Pertama, menyiapkan SDM andal, membangun infrastruktur, digital, pembiayaan teknologi dan komunikasi, serta pertumbuhan keuangan tinggi.
Empat pilar ini akan dijalankan hingga 2023 di mana dalam roadmap ini ditargetkan tidak ada lagi desa yang blankspot alias tidak ada sinyal hape.
"Di roadmap desa digital, selama lima tahun kita sudah persiapkan kita berharap dalam lima tahun terjadi percepatan desa yang luar biasa," ucapnya.
Saat masyarakat melek digital, maka berusaha pun menjadi lebih mudah. Sebab, pemasaran tidak terbatas pada ruang dan waktu. Caranya bisa memasarkan via online, di antaranya memanfaatkan Gofood. (Tribunjabar.id/Kisdiantoro)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hasan-dapat-berkah-gofood-jualan-soto.jpg)