Breaking News:

Cerita Ridwan Kamil Jadi Santri di Pesantren, Kaki Diendus Tikus saat Tidur di Kobong

Gubernur Jabar Ridwan Kamil ternyata pernah mencicipi kehidupan di pesantren di masa kecilnya. 

Dok Humas Jabar
Gubernur Jabar Ridwan Kamil seusai memimpin Upacara Hari Santri di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Jumat (22/10). 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jabar Ridwan Kamil ternyata pernah mencicipi kehidupan di pesantren di masa kecilnya. 

Dia jadi santri di pesantren yang dikelola keluarganya. Menurutnya, dunia pesantren dipenuhi makna, indah, sekaligus seru, dengan berbagai dinamikanya.

Salah satu memori masa kecil terindahnya adalah memasak dan menyantap nasi liwet bersama santri lainnya di pesantren dan tidur bersama di kobong yang sempit.

"Saya banyak mengikuti kegiatan pesantren dalam bentuk pesantren singkat, di pesantren-pesantren di wilayah keluarga saya. Memori terindahnya masak nasi liwet, kemudian tidur di kamar ukuran 3x3 meter, diisi delapan orang sehingga kaki saya keluar dari pintu," kata Gubernur Jabar Ridwan kamil seusai memimpin Upacara Hari Santri di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Jumat (22/10).

Ia mengatakan kakinya yang keluar pintu itu pun sempat diendus-endus tikus. Ia berharap dengan adanya berbagai undang-undang dan peraturan mengenai pesantren, pesantren di Indonesia, termasuk pesantren di Jabar bisa memiliki fasilitas lebih baik.

Baca juga: Covid-19 di Jabar Terkendali, Ridwan Kamil Siap Tancap Gas Ekonomi

"Saking sempitnya malam-malam, geli-geli, ternyata ada tikus sedang mengira kaki saya adalah ikan asin. Jadi itulah yang saya ingat dan lain-lain memorinya indah," katanya.

Seperti diketahui, kini sudah terbit Undang-Undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, Perpres Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, dan Perda Jabar Nomor 1 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren. Jabar menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerbitkan perda tentang pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jabar mengatakan Upacara Hari Santri di Lapangan Gasibu ini pertama kali yang dilaksanakan selama pandemi.

"Hari santri ini sangat penting agar kita bisa terus membawa semangat hubbul wathon minal iman, bahwa bela negara NKRI ini juga bagian dari iman. Resolusi jihad yang dulu disampaikan para ulama di 22 Oktober 1945 di Surabaya itulah yang menjadi penyemangat pada saat pertempuran 10 November yang kita jadikan Hari Pahlawan," katanya.

Di Jabar sendiri banyak sekali kiai dan santri yang berkorban dalam membela kemerdekaan. Termasuk keluarga Ridwan Kamil yang juga syahid dan sampai hari ini belum ditemukan jasadnya dalam perang melawan Belanda di Ujungberung.

Baca juga: Bonus Puluhan Juta Hingga Tanah Ratusan Meter Untuk Atlet Peraih Medali di PON Papua asal Majalengka

"Karena dulu saat TNI Polri belum hadir, secara sejarah kiai dan santrilah yang terdepan dalam membela melawan penjajah," katanya.

Tema santri hari ini, katanya, Santri Siaga Jiwa Raga. Dalam hal ini, jika dulu melawan penjajah, sekarang harus kuat melawan ideologi-ideologi yang mengancam Pancasila.

"Barang siapa ada ideologi lewat medsos, lewat pergaulannya, lewat diskusi, bisikan yang mengancam Pancasila, mengancam NKRI, mengancam Bhinneka Tunggal Ika, maka para santri harus terdepan untuk meluruskan," katanya.

Para santri juga harus menjadi teladan dalam melawan pandemi Covid-19. Di antaranya mensukseskan vaksinasi, agar kehidupan kembali bisa normal.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved