Cerita Gorengan Gangster di Pasar Ujungberung, Pedagangnya Ikut Disangka Gangster: Kok Nggak Tatoan
Nama Gorengan Gangster sempat mengundang banyak pertanyaan dari para pembeli. Bahkan ada yang mengira penjual merupakan gangster.
Penulis: Ferdyan Adhy Nugraha | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferdyan Adhy Nugraha
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gorengan seperti bala-bala, gehu, pisang goreng, dan cireng merupakan makanan favorit bagi banyak orang.
Harganya yang murah, enak rasanya, serta mudah didapatkan menjadi alasan orang-orang untuk memakannya.
Di Pasar Ujungberung atau tepatnya jalan Nagrok, Kota Bandung, terdapat sebuah lapak yang menjual gorengan dengan nama unik. Lapak tersebut dinamakan Gorengan Gangster.
Baca juga: Cerita Desa Penjual Gorengan di Sumedang, Kuasai Pasar Jakarta & Sekitarnya, Pulang Bawa Mobil Mewah
Ade Toha, pemiliknya, mengatakan nama unik ini merupakan pemberian dari mahasiswa UIN. Nama ini diberikan karena saat itu, Kota Bandung sedang ramai masalah gangster.
"Jadi waktu awal berdiri di tahun 2004, kami belum punya nama. Cuman sekitar tahun 2009, karena mahasiswa UIN banyak yang ke sini waktu tengah malam dan lagi banyak gangster jadi dinamakan Gorengan Gangster," ujar Toha kepada Tribun Jabar, Kamis (21/10/2021).
Nama Gorengan Gangster, lanjut Ade, sempat mengundang banyak pertanyaan dari para pembeli. Bahkan ada yang mengira penjual merupakan gangster.
"Banyak yang datang terus bilang 'kok gak kaya gangster penjualnya, biasanya kan tatoan atau ya kaya gangster lah'," katanya.
Selain itu, hal yang membuat gorengannya unik adalah soal ukuran. Ade mengungkapkan, gorengannya memiliki ukuran cukup besar dengan harga yang relatif lebih murah.
"Harga yang kami jual Rp 1.000 satu buah. Dalam semalam alhamdulilah bisa kejual 4000 buah sampai menghabiskan satu kuintal tepung terigu," katanya.
Baca juga: Cerita Pedagang Gorengan di Sukabumi saat PPKM, Biasa Dapat RP 700 Ribu Per malam, Kini Rp 400 Ribu
Adapun gorengan yang dijual kurang lebih sama seperti pedagang pada umumnya. Mulai dari bala-bala, gehu, cireng, tempe goreng, risoles, lontong, hingga yang manis seperto donat serta pisang goreng.
"Kami buka sekitar habis magrib. Kalau tutup paling malam saat ini sekitar jam 2. Alhamdulilah selalu habis," katanya.
Namun di balik kesuksesan Ade menjual gorengan, ada cerita duka yang datang. Paling berat adalah ketika menghadapi pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020.
"Penjualan sempat turun drastis saat Covid-19. Sekolah pada libur, kampus juga, terus pesantren yang biasanya beli waktu malem sekarang gak ada karena sedang libur," katanya.
Kondisi ini membuat Ade berfikir keras agar usahanya tetap jalan. Apalagi dia mengaku memiliki lima karyawan yang harus dihidupi.