Menelisik Penyebab Banjir Lembang, Hulunya Disebut Banyak Dieksploitasi untuk Pertanian dan Wisata
Banjir yang terjadi di daerah Cikole itu tak hanya karena saluran air tersumbat sampah saja, tetapi ada faktor lain
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat menyoroti penyebab banjir yang terjadi sejumlah titik di Kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terutama setelah turun hujan deras.
Banjir di dataran tinggi ini terjadi di Desa Cibogo hingga menyebabkan pengendara motor terseret aliran air.
Kemudian disusul banjir di Kampung Babakan, RT 1/3, Desa Cikole hingga menyebabkan 15 rumah warga dengan total 19 KK terendam banjir akibat saluran tersumbat sampah.
Baca juga: HATI-HATI, Banjir Lembang Bisa Merembet ke Bandung, Warga Diminta Waspada
Ketua FPLH Jabar Thio Setiowekti, mengatakan, terkait banjir yang terjadi di daerah Cikole itu tak hanya karena saluran air tersumbat sampah saja, tetapi ada faktor lain yakni lahan di bagian hulunya sudah gundul dan tidak ditanami tanaman keras.
"Sehingga menimbulkan dampak dan berbahaya bagi warga di sekitarnya. Jadi, diperlukan kekompakan agar bencana tidak terjadi di wilayah Lembang," ujarnya saat dihubungi Tribun Jabar, Rabu (20/10/2021).
Menurutnya, kawasan hulu di Lembang yang merupakan kawasan lindung baik tanah milik, tanah desa, lahan Perhutani, dan lahan milik PTPN VIII ini, seharusnya jangan ditanami sayuran karena tidak bisa menyerap air hingga akhirnya menyebabkan banjir.
"Jadi penyebab banjir ini tak hanya disebabkan akibat sampah yang dibuang masyarakat ke aliran air, tapi ada lahan yang tidak ditanami oleh pohon keras," kata Thio
Atas hal tersebut, pihaknya menyarankan agar semua instansi baik Pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun pihak lain dan masyarakat setempat harus sinergi dan menghilangkan ego sektoral.
"Upaya itu harus dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan khususnya di daerah Lembang dan di Kawasan Bandung Utara," ucapnya.
Baca juga: Selain Merendam 15 Rumah, Banjir Lembang Juga Genangi Kebun Buah-Buahan, Petani Rugi Puluhan Juta
Plt Kepala Desa Cikole, Ida Suhara juga membenarkan bahwa banjir yang terjadi di daerah Lembang, terutama di Cikole itu bukan hanya masalah saluran air akibat sedimentasi dan intensitas hujan yang sangat tinggi saja, tetapi bencana banjir ini akibat banyak faktor.
"Ada faktor lain karena disini kan (hulu) ada pemanfaatkan lahan seperti pertanian yang cukup banyak juga eksploitasinya. Terus ada dampak juga sebagain dari wisata juga. Jadi ada pengeruh ke resapan air meski tidak terlalu signifikan," kata Ida.
Ia mengatakan, Hutan Pangkuan Desa (HPD) yang menjadi hulu di daerah Cikole luasnya mencapai 460,13 hektare, sedangkan yang saat ini dikembangkan menjadi lahan pertanian dan wisata kurang dari 10 persen.
"Sebetulnya masih banyak hutan-hutan yang masih alami, tapi ada anggapan dari masyarakat ada alih fungsi lahan. Sebetulnya tidak, hutannya tetap hutan dan tidak ada tegakan yang diganggu, bain kontur atau apapun, tapi dimanfaatkan potensinya," ucapnya.
Pemanfaatan lahan di kawasan hulu Lembang ini, kata Ida, hingga saat ini masih mendapat pengawasan ketat dari Perhutani, pihak desa, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Baca juga: Banjir yang Menerjang Cikole Lembang Merusak Peralatan Elektronik Warga Hingga Harus Diperbaiki
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/banjir-di-lembang-1.jpg)