HATI-HATI, Banjir Lembang Bisa Merembet ke Bandung, Warga Diminta Waspada
Selain itu, kata dia, adanya juga saluran air yang ditutup dan menjadi bangunan pertokoan di atas lahan carik desa, sehingga tidak ada buangan air.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ravianto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Wilayah Kota Bandung diingatkan untuk lebih waspada menyusul adanya kejadian banjir yang kerap terjadi di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Banjir di Lembang dinilai bisa berdampak terhadap wilayah yang lebih rendah.
Sebelumnya, Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat menilai terkait banjir yang terjadi di Kampung Babakan, RT 1/3, Desa Cikole tak hanya karena saluran air tersumbat sampah saja, tetapi ada faktor lain yakni lahan di bagian hulunya sudah gundul dan tidak ditanami tanaman keras.
"Bisa saja menimbulkan bencana banjir ke Kota Bandung karena selain cuaca ekstrem, ada juga saluran air yang penuh oleh sampah dan nantinya (limpasan air) mengalir ke sungai Cikapundung karena run off pasti tinggi," ujar Ketua FPLH Jabar Thio Setiowekti, saat dihubungi, Rabu (20/10/2021).
Atas hal tersebut, pihaknya mengingatkan agar Kota Bandung harus bersiap dalam menghadapi dampak banjir tersebut dengan cara melakukan antisipasi yang benar-benar matang, terutama memperbaiki drainase.
"Bandung kalau gak siap-siap dari sekarang, ya terima nasib karena run off nya pasti kenceng dari sini. Nah pengendaliannya dimana? Ya Bandung harus perbaiki drainase," ucapnya.
Sementara untuk Pemkab Bandung Barat, kata dia, harus memperketat pengendalian pembangunan di wilayah Kawasan Bandung Utara (KBU), terutama dalam hal perizinan.
"KBU sekarang daya dukungnya sudah tidak memadai, karena pembangunan sebelumnya sudah tidak terkendali. Kalau kita lihat pembangunan sekarang sudah terlalu banyak. Nah pembangunan itu sesuai gak dengan aturan yang berlaku di KBU, sekarang banyak bangunan yang tidak sesuai aturan, jadi itu yang harus dikendalikan," kata Thio.
Ketua Forum Peduli Bandung Utara (Forbat) Suherman, mengatakan, banjir di kawasan Lembang khususnya di depan Pasar Panorama Lembang dan Cikole akibat alih fungsi lahan di hulu dan drainase yang tidak berfungsi dengan baik.
Selain itu, kata dia, adanya juga saluran air yang ditutup dan menjadi bangunan pertokoan di atas lahan carik desa, sehingga tidak ada buangan air.
"Pembuangan air dari hulu itu ada yang ke PPI dan Sesko AU, kemudian dari Jayagiri mengalir ke Panorama. Tapi karena saluran air penuh lumpur, sampah, dan ada yang ditutup akhirnya banjir di depan pasar tak terelakan, itu mulai terjadi sejak tahun 2007'an, sebelumnya tidak pernah," kata dia belum lama ini.
Sementara Dinas Penataan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) KBB akan terus melakukan normalisasi perbaikan dan pembersihan saluran drainase di kawasan Lembang untuk antisipasi adanya banjir susulan.
"Plt Bupati sudah mewanti-wanti agar lakukan antisipasi memasuki musim hujan, fokusnya di daerah Lembang, Cisarua, Ngamprah, serta underpass Padalarang. Sekarang dibereskan dulu drainase di Lembang agar tidak ada banjir saat turun hujan," ujar Kepala DPUTR, KBB, Rahmat Adang Syafaat.
Adang meminta kesadaran masyarakat di Lembang untuk tidak membuang sampah ke saluran air karena tahun depan pihaknya akan menata Lembang secara komprehensif dari drainase hingga penataan kawasan.
"Ini kan banyak gorong-gorong yang sudah lama tidak diperbaiki dan rusak sehingga menghambat aliran air. Makanya kita berkoordknasi dengan pemerintah provinsi karena jalannya merupakan jalan provinsi," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pasar-panorama-lembang-tenggelam.jpg)