Rabu, 6 Mei 2026

41 Tahun Jualan Martabak Mini, Abah Oha di Garut Kota Tak Pernah Ganti Loyang 

loyang untuk membuat martabak mini tersebut belum pernah diganti sejak pertama kali Abah Oha berjualan. 

Tayang:
Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
Abah Oha (71), penjual martabak mini di trotoar Jalan Ahmad Yani dekat Masjid Wakaf, Kecamatan Garut Kota, Jawa Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT- Selama puluhan tahun martabak manis, martabak mini olahan Abah Oha (71), masih eksis di tengah perkembangan kuliner di Garut Kota. 

Abah Oha biasa berjualan martabak mini di trotoar Jalan Ahmad Yani dekat Masjid Wakaf, Kecamatan Garut Kota. Setiap hari, gerobak jualannya selalu diserbu pembeli

Ia sudah berjualan martabak mini sejak 1970. Bermodal kompor dua tungku dan bahan bakar minyak, Abah Oha mampu membuat ratusan porsi martabak mini per hari. 

"Dulu jualan masih keliling, tahun 1970-an. Waktu itu masih keliling ke sekolah-sekolah kemudian mangkal di sini," ujarnya saat diwawancarai Tribunjabar.id, Jumat (15/10/2021) malam. 

Dengan harga Rp 2.500 per loyang, martabak mini olahan Abah Oha selalu habis terjual. 

Baca juga: Jajanan Malam di Kuliner Alun-alun Tanjungsari Sumedang, Martabak hingga Keju, Ini Daftar Harganya

Puluhan tahun jualan martabak mampu membuatnya menghidupi anak dan istrinya. 

Anak-anaknya kini menjadi guru di salah satu pesantren dan sekolah ternama di Kabupaten Garut

Berjualan martabak bukan semata-mata untuk mencari uang, namun lebih pada kebutuhan aktualisasi diri. 

"Anak-anak abah alhamdulillah sudah pada jadi guru, abah juga dilarang berjualan lagi, tapi abah nolak, ini jualan buat ngisi waktu luang aja daripada bosan di rumah," katanya.

Jika malam Minggu, dagangannya pasti diserbu penikmat martabak. Bahkan, mereka harus rela mengantre.

Ia enggan menjawab soal nominal penghasilnya dari berjualan martabak mini.

Baca juga: Curhatan Pemilik Warung Martabak Iba soal Nasib Para Kurir Go-Food: Mereka Cium Aroma Makanannya Aja

"Aah kecil (laba), tapi abah mah seneng aja bisa bikin martabak, ngobrol sama pelanggan, ngumpul di sini sama anak-anak yang beli," katanya.

Lika-liku berjualan di trotoar selama puluhan tahun sudah dilaluinya, tidak sedikit ada orang yang iseng dan tega padanya. 

Ia mengaku suatu hari pernah ada pembeli  lalu membayar martabak pakai uang palsu nominal 100 ribu. 

"Belinya cuma beberapa, ternyata uang itu palsu, ini masih abah simpan nih. Tapi abah mah tidak pernah benci, biarin aja," ucapnya sembari memperlihatkan uang palsu tersebut. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved