Wawancara Eksklusif
WAWANCARA EKSKLUSIF Yusril Ihza Mahendra (1): Minta Rp 100 M? Saya Dapat Nol Rupiah Saat Bela Ibas
Yusril Ihza Mahendra membantah tudingan bahwa tak merapatnya ia ke Partai Demokrat kubu AHY karena honornya yang tak sesuai dengan keinginannya.
TRIBUNJABAR.ID - Advokat Prof Yusril Ihza Mahendra membantah tudingan bahwa tak merapatnya ia ke Partai Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) karena honornya yang tak sesuai dengan keinginannya.
Yusril disebut-sebut meminta bayaran fantastis, Rp 100 miliar.
Berikut ini petikan wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribunnetwork Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribunnetwork Rachmat Hidayat dengan Yusril Ihza Mahendra, Rabu (13/10/2021).
Jubir Demokrat Herzaky menyebut Anda pernah diajak berkomunikasi dengan DPP Partai Demokrat, tapi tidak deal karena honor yang Anda minta Rp 100 miliar. Bagaimana ceritanya?
Sebenarnya saat kisruh ini terjadi ada anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat yang menghubungi saya. 'Bagaimana kalau Bang Yusril membantu kami ini?'.
Saya bilang, ya, cobalah kita jajaki, kita bahas bersama-sama.
Sesudah itu juga ada melalui orang-orang, melalui teman-teman saya dan orang yang saya kenal, yang mengajak bagaimana kalau saya menjadi lawyer Partai Demokrat.
Beberapa kali mereka meminta mengadakan pertemuan. Tapi, saya katakan, sudah lebih satu tahun saya bekerja dari rumah, tidak keluar rumah, tidak bertemu orang.
Jadi, saya minta maaf, kecuali ada pertemuan secara virtual barangkali saya bisa hadir.
Tapi itu tidak pernah terjadi karena mereka menghendaki adanya pertemuan secara langsung.
Bahkan ada teman yang mengaku katanya bagaimana kalau saya bertemu langsung dengan AHY, tapi itu juga tidak pernah terjadi.
Jadi tidak pernah satu kali pun saya bertemu dengan pimpinan Partai Demokrat, anggota DPR Partai Demokrat, secara fisik, enggak pernah sama sekali.
Yang pakai telepon itu ngomong hanya anggota DPR, AHY-nya juga tidak pernah ada komunikasi dengan saya melalui telepon ataupun virtual.
Dengan Pak SBY juga tidak, siapa pun juga tidak ada.
Jadi bagaimana ceritanya bisa ramai soal Rp 100 miliar?