Breaking News:

Sektor Pertanian di Sumedang Masih Andalkan Mata Air dan Hujan, Waduk Jatigede hanya untuk Pantura

Keberadaan Waduk Jatigede pemanfaatannya hanya diperuntukan untuk lahan pertanian di wilayah Pantura.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Objek Wisata Puncak Permata di Kawasan Waduk Jatigede. Semua objek wisata di Sumedang sudah bisa dikujungi sejak Senin (4/1/2021). 

Laporan Kontributor TribunJabar, id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Keberadaan Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat tidak berperan besar untuk memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Sumedang sendiri.

Waduk raksasa kedua di Indonesia ini malah menjadi pusat pengairan untuk lahan pertanian di wilayah Pantura (Pantai Utara), di antaranya Majalengka, Indramayu, dan Cirebon.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang Rudi Suprayogi menyebutkan, keberadaan Waduk Jatigede pemanfaatannya hanya diperuntukan untuk lahan pertanian di wilayah Pantura.

Baca juga: Bapemperda Tindaklanjuti Perubahan Perda BUMD, Perlancar Pembangunan SPAM Jatigede

"Selama ini sumber air untuk lahan pertanian dan perkebunan di Sumedang hanya mengandalkan sumber air yang ada di Sumedang, bukan dari Waduk Jatigede," kata Rudi Supra Yogi saat ditemui TribunJabar.id, di ruang kerjanya, Rabu (15/9/2021) sore.

Karena persoalan itu, Rudi punya siasat agar daerah di sekitar Waduk Jatigede dibuat sebagai daerah agrowisata dengan pertanian sebagai basisnya.

Kabupaten Sumedang saat ini memiliki lahan pertanian seluas 31.166 hektar dan lahan perkebunan seluas 4.500 hektar. Dari dua lahan tersebut, sumber air yang selama ini digunakan bersumber dari aliran sungai, mata air, dan air hujan.

"Waduk Jatigede sebagai sumber pengairan tidak mengairi aliran di Sumedang, memang dirancangnya seperti itu," kata Rudi.

Rudi mengklaim sumber air yang ada sudah cukup untuk mengairi lahan pertanian dan perkebunan di Sumedang. Adapun lahan yang mengandalkan sumber air tadah hujan jumlahnya hanya sedikit atau sifatnya hanya blok-blok kecil.

Baca juga: Minta Mudahkan Daftar Gugatan, Warga Terdampak Bendungan Jatigede Datangi Pengadilan Negeri Sumedang

"Sebarannya blok-blok kecil yang mengandalkan tadah hujan, seperti di Cibugel, Jatinunggal, Jatigede, Tanjungmedar, Tomo, Ujungjaya, Cisitu, biasanya di tempat yang mengandalkan tadah hujan itu panennya hanya sekali dalam setahun," terang Rudi.

Wilayah-wilayah yang menjadi lumbung padi di Sumedang, di antaranya Buahdua, Conggeang, Darmaraja dan Situraja. Produksi padi tahun 2021, ditargetkan harus mencapai 387.374 ton, di mana sampai bulan September ini baru mencapai 317.823 ton.

"Sebelumnya produksi padi di tahun 2020 mencapai 361.951 ton," ucap Rudi.

Selain padi, kata Rudi, Sumedang juga punya produksi holtikultura dan perkebunan. Target Produksi holtikultura tahun 2021 harus mencapai 231.717 ton, sementara pada tahun 2020, jumlah produksi hanya mencapai 154.372 ton.

"Target tahun 2021 untuk perkebunan 7053 ton, produksi sebelumnya mencapai 6592 ton," katanya.

Baca juga: Pikap Kecelakaan Maut Saat Perjalanan Piknik ke Jatigede, Sandra Alami Luka Berat dan Belum Sadar

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved