Manfaatkan Sinar Ultraviolet, Warga Ciamis Ini Ciptakan Alat Penangkap Hama Wereng
Seorang warga Ciamis berhasil merancang alat penangkap hama wereng dengan memanfaatkan sinar ultraviolet
Penulis: Andri M Dani | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Berawal dari sering mendengar keluhan petani di tempat ia tinggai di Dusun Desa Rt 05 RW 09 Desa Dewasari Cijeungjing Ciamis. Yang padi di sawah mereka terserang hama wereng, walang ssangit, ngengat dan serangga lainnya. Membuat hasil panen padi menurun.
Akhirnya membuat Rudi Mandalajaya (40) berfikir panjang untuk mencoba membantu.
Keahliannya sebagai tenaga servis barang elektronik, cukup mendukung.
Baca juga: Petani Menjerit, Sudah Gagal Panen Harga Gabah Padi di Pangandaran Merosot, Belum Lagi Serangan Hama
Terlebihselama masa pandemi ini ia lebih sering di rumah, setelah ia benar-benar dirumahkan oleh perusahaan maintenance peralatan mainan pakai koin (game master).
Sehingga enam bulan lalu lahir lah ide untuk membuat alat perangkap hama wereng guna membantu petani. Sistemnya menggunakan cahaya sina ultraviolet.
“Aslinya saya ini korban terdampak pandemi yang dirumahkan oleh pwerusahaan tempat bekerja. Sehingga lebih sering berada di rumah. Akhirnya fokus mengutak-atik barang elektronik,” ujar Rudi Mandalajaya kepada Tribun ketika ditemui di rumahnya tak jauh dari Lapangan Dewasari Rabu (28/8) sore.
Alat perangkap hama wereng dengan menggunakan sinar ultraviolet tersebut menurut Rudi sangat sederhana.
Baca juga: Petani Milenial di Indramayu Rancang Skema Basmi Hama Wareng dan Sundep yang Jadi Ancaman Petani
Hanya berbekal mini solar cel 3 volt yang bisa dipesan melalui online , berikut bateray litium 3,7 volt , kap lampu, dudukan lampu, baut, sekrup, acrilik dudukan solar cel, cup gelas plastik serta lampu ulra violet (UV).
Berikut besi plat, besi holo dan sambungannya untuk tiang. Serta baskom untuk wadah air berisi deterjen.
Alat perangkap hama wereng dengan memanfaatkan sinar UV tersebut bisa dibongkar pasang. Kisaran biaya untuk membuat alat perangkap hama wereng tersebut katanya sekitar Rp 150.000- Rp 200.000.
Dan alat tersebut sudah diuji coba di sawah petani di sekitar tempat Rudi tinggal di Dewasari.
Target sasarannya adalah serangga-serangga yang beraktivitas malam hari di sawah seperti wereng, walang sangit, penyengat atau ngengat ahkan juga nyamuk.
Hama wereng coklat merusak tanaman padi menghisap tanaman padi hingga tanaman padi mati kering. Walang sangit, menghisap cairan dan tangkai bunga padi masih muda (malai) sehingga buah/bulir padi jadi hampa.
Baca juga: Diserang Hama Tikus, Petani Padi di Ciracap Kabupaten Sukabumi Pun Gagal Panen
Ngenagt penggerek batang putih dan pengerek batang kuning yang juga perusak tanaman padi.
Sinar ultraviolet yang memancar dari alat rancangan Rudi tersebut menarik hama wereng dan serangga lainnya yang sedang berkeliaran malam di sawah untuk datang.
Setelah berkeliling mengitari lampu UV, akhirnya jatuh ke baskom yang berisi air bercampur deterjen.
Bila dilihat pagi hari akan dipergoki banyak serengga yang mati merapung di baskom berisi air bercampur deterjen.
Lampu UV bersinar fokus sepanjang gelapnya malam karena mendaat suplai dari solar cel mini yang dipasang di bagian atas perangkat. Siang hari solar cel mini tesrebut menyerap energi dari sinar matahari dan ketika gelap, otomatis lampu menyala.
“Jangankan malam. Siang hari saja, seperti sore ini, kalau ditutup solar cel mininya dengan tangan. Lampu UV otomatis menyala. Prinsip kerjanya sederhana,” jelas suami dari Fitri Destiani tersebut.
Rudi berharap alat sederhana yang dirancang bisa membantu petani yang padi sawahnya setiap musim tanam selalu terancam hama wereng dan hama serangga lainnya.
Baca juga: Diserang Hama Tikus, Petani Padi di Ciracap Kabupaten Sukabumi Pun Gagal Panen
“Idealnya bisa ikut berpartisipasi menyelamatkan pangan nasional,” ujar alumnus Teknik Informatika Unsil tahun 2013 tersebut.
Setiap satu hektare sawah menurut Rudi hanya dibutuhkan 4 unit alat rancangannya tersebut dan petani tidak perlu lagi membeli herbisida untuk memberantas hama yang menyerang padi sawah mereka.
Tentua hal tersebut sanat cocok mendukung pengembangan pertanian organik yang berwawasan lingkungan.
“Bisa menekan biaya produksi. Turut mendukung pengembangan pertanian organik dan penyelamatan lingkungan. Alatnya tidak perlu dipasang permanen di sawah. Bisa dibongkar pasang dibawa pulang,” katanya.
Bila disuatu lingkungan sedang terserang penyakit DBD yang disebabkan gigitan nyamuk aedes agypti, alat jebakan hama wereng buatan Rudi ini juga bisa dipasang di lingkungan pemukiman warga.
Baca juga: Hama Akar Gada Bikin Petani Sayuran di Majalengka Gagal Panen
Alat pertangkap hama wereng dengan memanfaatkan sinar UV yang dibatnya 3 bulan lalu, awal bulan Agustus lalu mengikuti lomba BDSI secara virtual.
“Alhamdulillah masuk grand final. Tanggal 12 Agustus lalu, hasilnya sudah diumumkan, keluar sebagai juara,” ujar bapak dua anak tersebut.
Sekarang Rudi sedang mengurus NIB dan hak cipta atas alat perangkap hama wereng dan serangga malam yang memanfaatkan sinar UV buatanya testsebut.
Menurut Rudi ia pun siap berbagi ilmu dengan kelompok tani, penyuluh, siswa SMK pertanian mapun elektronik serta mahasiswa tentang alat perangkap hama wereng rancangannya tersebut.
“Mumpung selama masa pandemi ini saya punya banyak waktu,” ujar Rudi yang bekerja sebagai teknisi alat mainan elektronik pakai koin dengan wilayah kerja dari Bandung sampai Majenang (Cilacap) yang selama masa pandmi dan PPKM ini dirumahkan oleh perusahaan tempat ia bekerja .
“Saya siap berbagi ilmu,” katanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/alat-perangkapa-hama-wereng.jpg)