Kisah Abah Usman, Pria 101 Tahun di Majalengka yang Ikut Melawan Belanda, Jepang Hingga DI TII

Ini kisah Abah Usman, pria berusia 101 tahun asal Majalengka yang sempat melawan penjajah Belanda hingga DI TII.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: taufik ismail
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Abah Usman (101), warga Blok Ciloa, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Abah Usman, begitu ia disapa merupakan pria asal Blok Ciloa, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.

Ia adalah salah satu sosok pejuang yang masih hidup.

Usianya sudah melewati satu abad atau 101 tahun.

Bahkan, mungkin merupakan orang tertua di Kabupaten Majalengka yang ada.

Abah Usman masih terlihat gagah dan masih kuat berjalan.

Saat berkomunikasi pun cukup jelas, meski ia harus berpikir lama saat akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

Usianya yang sudah sepuh terlihat jelas dari kerutan wajah dan gigi yang sudah hampir tidak ada.

Pada masa penjajahan zaman Belanda dan Jepang, Abah Usman menjadi salah satu pejuang demi kemerdekaan.

Ia mengaku sempat mengikuti sejumlah aksi heroik para pejuang kala itu.

Dari mulai penjajahan Belanda dan Jepang, sampai zaman gerombolan Darul Islam (DI) TII.

Saat penumpasan gerombolan DI, kata dia, ia sempat ikut melakukan aksi pagar betis.

Ia berjaga bersama empat rekannya dan satu tentara di sebuah gubuk.

Lokasinya di kaki Gunung Ciremai.

“Pas ketika gerombolan DI saya juga ikut melakukan kegiatan pagar betis bersama tentara dan warga lainnya,” ujar Abah Usman saat ditemui di rumahnya, Sabtu (21/8/2021).

Disinggung kenapa ia tidak mau mendaftarkan diri menjadi veteran, Abah Usman mengaku tidak mau dan lebih memilih menjadi warga biasa saja.

Meski faktanya ia sendiri sempat ikut berperang dengan penjajah maupun gerombolan pemberontak.

"Saya lebih senang seperti ini. Enggak apa-apa enggak masuk veteran juga,” ucapnya.

Kasi Pelayanan Umum (Yanum) Desa Lengkong Kulon, Agus Supriyadi mengatakan, berdasarkan data di Buku Induk Kependudukan (BIP), Usman lahir pada tanggal 15 Juni tahun 1920.

Bahkan, terhitung menjadi orang paling tua di desa tersebut.

Sehingga wajar saja, kerap dijadikan warga sebagai tempat bertanya tentang sejarah dan lainnya.

“Ia memang merupakan warga kami. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Berdasarkan data di BIP desa dan Dinas Kependudukan Kabupaten Majalengka, Abah Usman ini lahir pada tanggal 15 Juni 1920 atau sudah berusia 101 tahun,” ucap Agus.

Kepala Dusun Ciloa, Adi Sopandi menambahkan, Abah Usman merupakan satu-satunya warga yang memelihara dan merawat Gua Belanda di puncak bukit Gunung Biru, yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya.

Di puncak bukit tersebut, terdapat juga gua persembunyian pejuang dari penjajah Belanda.

Sehingga disebut sebagai Gua Belanda.

Selain itu, Abah Usman juga yang merawat tiga pemakaman di puncak bukit tersebut, yang diyakini masyarakat sebagai makam atau kuburan pusaka serta senjata para pejuang.

“Meski usianya sudah tua seperti itu, namun Abah Usman ini masih kuat untuk naik ke puncak Gunung Biru. Untuk sekadar merawat sejumlah makam pusaka dan membersihkan Gua Belanda itu,” ujar Adi.

Baca juga: Kisah Dua Veteran Perang Kemerdekaan RI, Terpisah 57 Tahun Kini Bertemu Kembali, Masih Saling Kenal

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved