Breaking News:

Masih Ingat Mantan Juara Dunia Tinju Muhammad Ali? Sang Cucu Catat Debut di Ring Tinju, Menang TKO

Cucu mantan juara dunia tinju kelas berat Muhammad Ali, Nico Ali Walsh, sukses meraih kemenangan technical knock out (TKO) pada duel tinju profesional

Editor: Hermawan Aksan
Masih Ingat Mantan Juara Dunia Tinju Muhammad Ali? Sang Cucu Catat Debut di Ring Tinju, Menang TKO
Twitter
Nico Ali Walsh (kanan) berpose dengan Mike Tyson

TRIBUNJABAR.ID - Cucu mantan juara dunia tinju kelas berat Muhammad Ali, Nico Ali Walsh, sukses meraih kemenangan technical knock out (TKO) pada duel tinju profesional pertamanya.

Nico Ali Walsh mencatat debut sebagai petinju dengan menghadapi Jordan Weeks di Hard Rock Hotel & Casino, Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat, Minggu (15/8/2021) pagi WIB.

Tarung kelas menengah super itu dijadwalkan berlangsung selama empat ronde.

Akan tetapi, Nico Ali Walsh, yang kini masih berusia 21 tahun, hanya membutuhkan satu ronde, tepatnya 1 menit 49 detik, untuk menumbangkan Jordan Weeks.

Pada awal ronde pertama, Nico Ali Walsh sudah berhasil meraih poin melalui dua pukulan tangan kanan dan hook kiri.

Ketika pertarungan berjalan 1 menit 11 detik, Nico Ali Walsh berhasil membuat Jordan Weeks tersungkur jatuh ke kanvas melalui pukulan jab kanan.

 

Jordan Weeks, yang terlihat terkejut, hanya bisa tersenyum ketika ia berusaha bangkit dan berdiri.

Ketika pertarungan dilanjutkan, Nico Ali Walsh terus menggempur Jordan Weeks dengan pukulan jab kanan dan hook kiri.

Serangan itu membuat Jordan Weeks tidak berdaya dan hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Nico Ali Walsh akhirnya dinyatakan menang TKO karena Jordan Weeks tidak bisa membela diri.

 

Dikutip dari situs Boxingscene, Nico Ali Walsh menjadi petinju kedua yang berhasil mengalahkan Jordan Weeks setelah Ricardo Vasquez Becceril.

Secara keseluruhan, rekor Jordan Weeks, yang kini sudah berusia 29 tahun, adalah empat kali menang dan dua kali kalah.

Di pihak lain, Nico Ali Walsh berhasil menyelesaikan debut profesional tinjunya dengan kemenangan TKO.

Nico Ali Walsh adalah putra Robert Walsh dan Rasheda Ali Walsh, putri Muhammad Ali.

Tepat pada Juni 2021, Nico Ali Walsh resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan promotor tinju legendaris asal Amerika Serikat, Bob Arum.

Kerja sama itu sangat menarik karena Bob Arum tercatat pernah menangani 27 pertarungan Muhammad Ali.

Setelah mengalahkan Jordan Weeks, Nico Ali Walsh terlihat sangat terharu karena bisa mengikuti jejak kakeknya menjadi seorang petinju profesional.

Nico Ali Walsh semakin terharu karena ia berhasil meraih kemenangan ketika mengenakan celana pendek milik kakeknya.

"Ini benar-benar sesuai dengan harapan saya," kata Nico Ali Walsh dikutip dari situs The Athletic.

"Perjalanan saya hingga mencapai titik ini (debut) sangat emosional."

"Saya selalu memikirkan dan merindukan kakek saya," ucap Nico Ali Walsh.

"Mungkin orang melihat saya menghadapi banyak tekanan karena menjadi cucu Muhammad Ali."

"Namun, dia hanyalah seorang kakek bagi saya."

"Bagi semua orang, Muhammad Ali adalah seorang legenda tinju yang hebat."

"Namun, bagi saya, dia adalah kakek terhebat."

"Saya tidak akan pernah memakai celana ini lagi."

"Ini adalah celana kakek saya."

"Seperti yang saya katakan, pertarungan ini sangat emosional," ujar Nico.

"Ini adalah mimpi saya yang menjadi kenyataan. Kemenangan ini sangat berarti untuk saya."

Juara dunia tiga kali

Muhammad Ali (nama lahir Cassius Marcellus Clay, Jr.; lahir 17 Januari 1942 – meninggal 3 Juni 2016 pada umur 74 tahun) adalah mantan petinju profesional asal Amerika Serikat yang dikenal secara luas sebagai salah satu tokoh olahraga yang paling penting dan terkenal dari abad ke-20.

Dari awal kariernya, Ali dikenal sebagai sosok inspiratif, kontroversial, dan berpengaruh baik di dalam maupun di luar ring.

Clay lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, dan mulai berlatih tinju pada usia 12 tahun.

Pada usia 22 tahun, ia telah merebut gelar juara dunia tinju kelas berat dari Sonny Liston dalam pertarungan pada tahun 1964.

Tidak lama setelah itu, Clay memeluk agama Islam dan mengubah nama "budak"-nya menjadi Muhammad Ali dan memberikan pesan kebanggaan ras untuk Afrika-Amerika serta perlawanan terhadap dominasi putih selama Gerakan Hak-Hak Sipil Afrika-Amerika tahun 1960-an.

Pada tahun 1966, dua tahun setelah memenangkan gelar kelas berat, Ali menolak ikut wajib militer untuk pasukan militer Amerika Serikat, serta menentang keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam.

Ali kemudian diskors dan gelar juaranya dicabut oleh Komisi Tinju.

Ia berhasil mengajukan banding di Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang membalikkan hukumannya pada tahun 1971.

Pada saat itu, ia tidak bisa bertarung sama sekali selama hampir empat tahun dan kehilangan kinerja puncaknya sebagai atlet tinju.

Tindakan Ali sebagai penentang perang membuatnya menjadi ikon besar untuk Generasi Tandingan.

Ali hingga saat ini merupakan satu-satunya juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali.

Ia memenangkan gelar tersebut pada tahun 1964, 1974, dan 1978.

Di antara tanggal 25 Februari hingga 19 September 1964, Ali dinobatkan sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat.

Ia dijuluki sebagai "The Greatest".

Pada tahun 1999, Ali dianugerahi "Sportsman of the Century" oleh majalah Sports Illustrated. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved