SEJARAH Bendera Putih sebagai Tanda Menyerah, Saat Ini Banyak Berkibar di Beberapa Tempat
Menyerah tak cuma bisa dicapkan dengan kata tapi juga simbol, seperti "lempar handuk" dan "kibarkan bendera putih".
Maurice Hugh Keen dalam bukunya, The Laws of War in The Late Middle Ages (1965), melalui Wikipedia, menyebutkan, warna putih biasanya digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang telah dibebaskan dari pertempuran.
Tahanan atau sandera yang ditangkap dalam pertempuran akan menempelkan selembar kertas putih ke topi atau helm mereka.
Garnisun yang telah menyerah dan dijanjikan perjalanan yang aman dengan membawa tongkat putih.
Penggunaan bendera putih sebagai simbol kemudian kian meluas ke penjuru dunia.
Sejarawan Portugis, Gasper Correia (1550-an) menyebutkan, seorang penguasa India, Zamorin dari Kalkuta melakukan negosiasi dengan musuhnya, Vasco da Gama dengan membawa kain putih yang diikatkan ke tongkat sebagai tanda perdamaian.
Kemudian Hugo Grotius dalam bukunya De jure belli ac pacis (On the Law of War and Peace), menuliskan bahwa salah satu teks dasar hukum internasional, mengenal bendera putih sebagai tanda perundingan.
Namun ada pula warna putih sebagai simbol lain.
Misalnya, Bani Umayyah menggunakan putih sebagai simbol pengingat Perang Badar yang merupakan peperangan pertama Nabi Muhammad Saw.
Lalu Dinasti Fatimah dan Ahlul Bait menggunakan warna putih lawan dari Dinasti Abbasiyah yang menggunakan hitam hitam sebagai warna dinasti mereka.
Di Prancis pada abad ke-17, warna putih sebagai simbol puritan.
Selain itu, warna putih juga sering digunakan simbol komando militer. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejarah Bendera Putih Sebagai Simbol Menyerah", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/31/073100565/sejarah-bendera-putih-sebagai-simbol-menyerah?page=all#page2.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/bendera-putih-tanda-protes.jpg)