Breaking News:

TKW Indramayu Meninggal

TKW Indramayu yang Meninggal di Turki Jadi Korban Trafficking, Diberangkatkan Saat PPKM Berlangsung

Serikat Buruh Migran Indonesia Cabang Indramayu akan mengawal kasus trafficking, seperti yang dialami Masripah warga Indramayu yang meninggal di Turki

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Darajat Arianto
DOKUMENTASI TRIBUN BALI
illustrasi human trafficking 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu akan terus mengawal kasus trafficking atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Seperti yang dialami Masripah (36), Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKW asal warga Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu yang meninggal dunia di Turki.

Ia diduga menjadi korban TPPO karena diberangkatkan secara ilegal atau unprosedural oleh pihak perekrut ke negara timur tengah tersebut.

Terlebih, ia diberangkatkan ke Turki pada 10 Juli 2021 di saat pemerintah Indonesia tengah menerapkan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

"Kalau kemarin pihak keluarga meminta kepada perekrut untuk membayar kompensasi sesuai dengan asuransi BPJS Ketenagakerjaan, tapi jika tidak sesuai kemungkinan besar akan dilanjut ke jalur hukum," ujar Ketua SBMI Indramayu, Juwarih kepada Tribuncirebon.com, Jumat (30/7/2021).

Baca juga: TKW Asal Indramayu yang Meninggsl di Turki Diduga Korban Perdagangan Orang, Begini Nasib Keluarganya

Juwarih menyampaikan, SBMI akan mengawal kasus tersebut sebagai bentuk efek jera bagi para pelakunya.

Menurut dia, perekrut yang memberangkatkan Masripah ke Turki diketahui juga merupakan pemain lama.

Selain mengirimkan Calon PMI ke negara timur tengah, ia juga diduga beberapa kali mengirimkan Calon PMI secara ilegal walau ke negara resmi penempatan PMI.

"Kami juga sudah meminta akta kematian, berita acara pemakaman PMI dan lain-lain kepada pihak KBRI untuk nantinya dijadikan barang bukti jika dilanjutkan ke jalur hukum," ujar dia.

Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor: 18 Tahun 2018, disampaikan Juwarih, ahli waris seharusnya bisa mengklaim asuransi secara keseluruhan sebanyak Rp 104 juta.

"Kalau kematiannya saja Rp 85 juta, cuma ada tambahan-tambahan lain, kalau ditotalkan itu Rp 104 juta," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved