Tak Ada Wisatawan ke Ciwidey Membuat Petani Stroberi Mengakali Hasil Panennya dengan Cara Ini
Tak hanya dikenal dengan pemandian air panasnya, ketika berlibur ke Ciwidey, wisatawan juga tak akan lupa untuk membeli stroberi. Namun adanya pandemi
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Darajat Arianto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR. ID, BANDUNG - Ciwidey menjadi salah satu daerah yang menjadi favorit bagi wisatawan untuk berlibur.
Udara yang sejuk dan pemandangan kebun teh di sepanjang perjalanan menjadi sebuah rileksasi saat berlibur ke Ciwidey.
Tidak hanya dikenal dengan pemandian air panasnya, ketika berlibur ke Ciwidey, wisatawan juga tak akan lupa untuk membeli stroberi.
Buah mungil berwarna merah ini memiliki rasa yang manis dan segar.
Namun adanya pandemi yang mematikan tempat wisata, berdampak juga pada petani stroberi yang biasanya ramai pembeli.
Petani stroberi asal Ciwidey, Enjang Setiawan mengatakan dampak tidak adanya wisatawan membuat pembeli stroberi pun berkurang.
"Penjualan berkurang lebih dari 50%, biasanya bisa kirim ke berbagai daerah seperti Jambi dan Semarang, kini berhenti, hanya kirim ke Jakarta saja," ujar Enjang saat ditemui di kebunnya, Minggu (25/7/2021).
Sebelum adanya pandemi, Enjang mengatakan, biasanya ia menjual 50 kilogram stroberi ke pengepul dengan harga Rp 40.000 per kilogram.
Namun sejak adanya pandemi, ia menjual 25 kilogram stroberi dan dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram.
"Yang paling terasa adalah wisatawan yang memetik sendiri ke kebun. Biasanya ramai, tapi sekarang kosong," ucapnya.
Bagi pengunjung yang memetik sendiri di lokasi, biasanya mereka harus membayar Rp 80.000 per kg.
Wisatawan yang ramai untuk memetik, dikatakan Enjang, ketika Idul Fitri dan Idul Adha.
Namun karena di kedua perayaan ini tempat wisata harus ditutup, maka tidak ada wisatawan yang datang juga membeli stroberi.
Sementara itu, masa panen stroberi yang 2 hari sekali berbuah ini membuat petani stroberi harus mencari akal untuk tetap bisa menjual stroberinya.
"Mengakalinya yaitu dikemas dalam bentuk frozen supaya tidak busuk," ucapnya.
Enjang mengatakan selama masa pandemi, sebagai petani, ia tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Ia harus bertahan sendiri untuk bisa menjual hasil panennya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/panen-stroberi-di-ciwidey.jpg)