Breaking News:

PPKM Darurat

Puluhan Perusahaan di Bandung Barat Sudah Tumbang, Makin Ketar-ketir saat PPKM Darurat Diperpanjang

Puluhan perusahaan manufaktur di KBB satu per satu gulung tikardihantam pandemi Covid-19, kondisi ini akan lebih parah saat PPKM Darurat diperpanjang

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Seli Andina Miranti
Pixabay.com
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Puluhan perusahaan manufaktur di Kabupaten Bandung Barat (KBB) satu per satu gulung tikar setelah dihantam pandemi Covid-19 dan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Kondisi ini akan lebih parah ketika PPKM Darurat diperpanjang hingga akhir Juli 2021 dan akhirnya akan lebih banyak lagi perusahaan manufaktur di KBB yang gulung tikar karena pendapatannya mengalami penurunan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) KBB, Joni Tjakralaksana, mengatakan, berdasarkan laporan sementara, setidaknya sudah 20 perusahaan manufaktur di KBB yang gulung tikar akibat pandemi Covid-19.

"Perusahaan yang lapor ke kita ada 20 perusahaan. Untuk yang lain kita gak tahu karena belum lapor," ujarnya kepada wartawan saat dihubungi, Jumat (16/7/2021).

Dengan adanya perusahaan yang tidak lapor atau tidak berada dibawah naungan Apindo, maka data yang baru dihimpun sejak virus Corona masuk ke Indonesia, bisa saja jumlahnya jauh lebih banyak.

Sementara untuk perusahaan yang masih bertahan, kata dia, mereka terpaksa harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau merumahkan sejumlah karyawannya agar bisa tetap bertahan saat pandemi Covid-19.

"Karena pandemi ini membuat industri kehilangan potensi pendapatan sekitar 40 persen," kata Joni.

Baca juga: Perusahaan di Karawang Diminta Tak Asal Lapor Data Karyawan Terpapar Covid-19

Joni mengatakan, selama pandemi Covid-19, para pengusaha tidak memikirkan untung lebih dulu, tetapi lebih memikirkan bagaimana caranya bisa bertahan di tengah kondisi krisis dan tetap memberikan hak gaji kepada buruh.

"Tiap perusahaan punya pendapatan berbeda-beda. Namun jika dipersentasikan rata-rata potensi lost sekitar 40 persen. Pasti banyak karyawan yang dirumahkan, sudah bukan rahasia lagi," ucapnya.

Agar industri di KBB tetap bertahan, pihaknya meminta ada keringanan suku bunga bank dan penghapusan beberapa pajak karena selama ini baru mendapatkan keringanan membayar listrik.

"Kita bersyukur dapat keringanan listrik karena produksi cuma 50 persen. Kalau boleh sih kita juga minta keringanan suku bunga bank," ujar Joni.

Menurutnya, jika ada keringanan suku bunga bank, maka hal itu akan sedikit meringankan beban karena selama ini para pengusaha banyak yang meminjam uang ke bank.

"Selain suku bunga bank, Pajak-pajak juga diringankan," katanya.

Baca juga: 4 Perusahaan Besar di Indramayu Langgar PPKM Darurat, Dua di Antaranya Didenda Rp 30 Juta

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved