Pasokan Oksigen Mulai Membaik, IGD RSUD Kota Bandung Mulai Berlakukan Buka-Tutup
Kebutuhan oksigen di rumah sakit di Jawa Barat mulai terpenuhi secara bertahap. Hal itu dikarenakan kolaborasi antara BUMD Jabar, yaitu PT Jasa Sarana
Penulis: Cipta Permana | Editor: Giri
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Cipta Permana
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kebutuhan oksigen di rumah sakit di Jawa Barat mulai terpenuhi secara bertahap. Hal itu dikarenakan kolaborasi antara BUMD Jabar, yaitu PT Jasa Sarana dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang.
Hal itu diucapkan Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat, Daud Achmad.
Direktur Utama RSUD Kota Bandung, Mulyadi, menuturkan, berkat hadirnya kerja sama tersebut, pasokan distribusi oksigen ke beberapa rumah sakit, termasuk RSUD Kota Bandung mulai berangsur membaik.
Menurutnya, saat ini Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Kesehatan Kota Bandung mulai mendapatkan bantuan dari beberapa BUMN terkait persoalan pasokan oksigen di beberapa rumah sakit selama beberapa hari lalu.
Bahkan, dari informasi yang diperolehnya, ada sekitar 10 ton oksigen liquid yang mulai didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit yang memiliki kapasitas tangki penyimpanan oksigen besar, sekitar enam ton.
"Dengan bantuan pasokan oksigen liquid dari BUMN ke beberapa rumah sakit yang memiliki kapasitas tangki penyimpanan oksigen besar saat ini, telah memberikan efek domino bagi rumah sakit-rumah sakit yang tidak memiliki tangki penyimpanan oksigen sebesar itu. Termasuk RSUD Kota Bandung untuk kembali dapat disuplai oleh vendor-vendor pengisian oksigen, seperti PT Samator, PT Sari Angin, dan lainnya, karena beban suplai yang berkurang," ujar Mulyadi saat dihubungi melalui telepon, Selasa (6/7/2021).
Hal ini dibuktikan dengan hadirnya pasokan distribusi oksigen dari vendor mitra kerja sama ke RSUD Kota Bandung sejak kemarin malam.
"Kemarin malam ada dua buah tabung VGL (vessel gas liquid) yang kalau dikonversikan ke tabung ukuran enam kubik, setara dengan 26 tabung per satu tabung VGL itu mulai datang sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan tingkat konsumsi yang tinggi, kedua tabung VGL itu baru habis sekitar pukul 05.00 WIB hari ini. Tapi sebelum kedua tabung itu habis, pukul 03.00 WIB, kami sudah mendapatkan pasokan baru dua tabung VGL lagi dari pihak vendor, yang habis pada pukul 12.00 WIB tadi. Dan kembali sebelum tabung itu habis, kami telah mendapatkan tambahan lagi, dua tabung pada pukul 10.00 WIB, dan terus berulang per empat jam sebelum habis," ucapnya.
Mulyadi mengatakan, dengan suplai pasokan tabung VGL oksigen yang mulai membaik dengan rata-rata jadwal kedatangan pasokan empat jam sebelum tabung habis, pihaknya cukup dapat menghela napas.
Pasalnya, jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya, datangnya pasokan tabung VGL sangat mepet dengan waktu habisnya tabung yang ada, bahkan pernah satu jam sebelum tabung yang ada itu habis.
Dengan kondisi saat ini, menurutnya, layanan IGD yang sebelumnya tutup bagi pasien dengan keluhan sesak napas, kini pihaknya memberlakukan buka-tutup.
Saat ada pasien rawat inap dinyatakan dapat pulang atau rawat jalan, maka tempat tidur rawat inap yang kosong akan langsung diisi oleh pasien yang telah mengantre atau tertahan sebelumnya di ruang rawat IGD.
"Dengan mulai membaiknya distribusi tabung VGL dari vendor itu, ketersediaan kebutuhan oksigen bisa digunakan hingga tiga sampai empat jam penggunaan, dengan beban konsumsi pasien 90 persen atau 52 dari 59 total ketersediaan tempat tidur. Jadi kalau ada pasien yang pulang, maka kita tempat tidur yang kosong akan isi lagi oleh pasien yang mengantre, dengan skrining terlebih dahulu kondisi tiap pasien oleh dokter IGD," ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, terdapat empat orang pasien yang tertahan di ruang rawat IGD RSUD Kota Bandung, menunggu tempat tidur ruang rawat inap kosong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/wagub-sidak-oksigen-tasik.jpg)