Breaking News:

Transformasi Pendidikan Untuk Antisipasi Learning Loss Pasca Pandemi Covid-19

Rektor UPI Prof.Dr.H.M.Solehuddin,M.Pd.,M.A ungkapkan pemikiran strategis tentang Transformasi Pendidikan Untuk Antisipasi Learning Loss Pasca Pandemi

Editor: bisnistribunjabar
Dok.UPI
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof.Dr.H. M.Solehuddin, M.Pd.,M.A 

TRIBUNJABAR.ID,- Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof.Dr.H. M.Solehuddin, M.Pd.,M.A mengungkapkan beberapa pemikiran strategis tentang Transformasi Pendidikan Untuk Antisipasi Learning Loss Pasca Pandemi Covid-19 dalam pelaksanaan kegiatan wisuda gelombang II Universitas Pendidikan Tahun 2021 (23/6/2021). Dalam kesempatan tersebut,  Rektor UPI Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA menyampaikan bahwa Covid-19 bukan hanya menciptakan siatuasi gawat darurat bidang kesehatan, tetapi juga di semua bidang kehidupan sosial, ekonomi bahkan politik.

Mencegah keterpurukan agar tidak semakin mendalam pada bidang-bidang tersebut adalah kebijakan negara yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sering ditegaskan oleh bapak Presiden, janganlah kita terhanyut, takut atau panik yang berlebihan akan tertular virus sehingga lupa untuk bekerja, berusaha atau melakukan kegiatan produktif lain. Menata kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan memerangi pandemi bukanlah pilihan “either/or,” keduanya harus dilakukan secara bersamaan. Itulah makna dari hidup berdampingan secara damai dengan Corona, tentu dengan menata kebiasaan baru yang jauh lebih teratur, sehat dan disiplin agar tetap bugar dan terhindar dari wabah.

Menurutnya, dampak pandemi pada bidang pendidikan bahkan jauh lebih menghawatirkan lagi ketika wabah terus meluas. Ketika semua webinar terlena dengan diskursus penanganan pendidikan dalam darurat kesehatan, kita hampir terlupa bahwa situasi “gawat darurat” mutu pendidikan sesungguhnya telah terjadi jauh lebih awal lagi bahkan mungkin jauh sebelum Covid-19 merebak. Tentu kita masih ingat dengan pernyataan Elizabeth Pisani sebagai respon terhadap terpuruknya skor literasi PISA Indonesia pada tahun 2012: Indonesian children do not know how stupid they are.

Transformasi Pendidikan2
Wisuda gelombang II Universitas Pendidikan Tahun 2021 (23/6/2021) (Dok.UPI)

Inilah cambuk bagi dunia pendidikan  kita, anak-anak harus tetap dapat belajar sambil berupaya memutus mata-rantai sebaran virus; dan oleh karena itu Pemerintah telah menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), melalui kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR). Namun, kini timbul kehawatiran akan hilangnya kesempatan mereka untuk belajar (learning lost) selama periode BDR yang telah berlangsung hampir 15 bulan sejak Maret 2020.

Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA  menerangkan bahwa BDR dengan mode PJJ telah mengurangi waktu belajar ketika anak-anak harus belajar mandiri, tanpa bantuan belajar yang memadai dari guru dan orang dewasa lain. Masalahnya ketika wabah itu muncul secara tiba-tiba para pengelola, sekolah, guru dan orangtua siswa tidak memiliki kesiapan mental dan penguasaan teknologi untuk mengelola dan melaksanaan PJJ apalagi di dalam ekosistem digital.

Berlama-lama dengan BDR, anak juga semakin stress dan tidak berdaya sehingga timbullah Learning loss sebagai wujud dari hilangnya kesempatan anak untuk belajar sesuai dengan tuntutan standar dan kurikulum yang berlaku. Akibatnya terjadilah deficit of competency sebagai manifestasi dari mutu pendidikan di tanah air yang semakin terpuruk.

Dampak global pandemic ini tentu tidak hanya dialami Indonesia; setiap negara di dunia mengalami masalah yang tidak bebeda. Ancaman terjadinya learning loss telah menimbulkan kehawatiran pemerintah dan masyarakat dunia. Learning Loss tidak hanya akan menjadi ancaman yang luar biasa terhadap mutu pendidikan, tetapi juga terhadap keadilan layanan pendidikan (educational equity) yang kita usung selama ini.

Kesenjangan layanan pendidikan antar-segmen masyarakat telah terjadi dan segmen masyarakat yang kurang beruntung (disadvantaged groups) jauh dari kesiapan mereka untuk mengikuti PJJ online karena mereka tidak memiliki akses yang sama dengan mereka yang beruntung (advantaged groups) terhadap internet bahkan perangkat digital-pun (laptop, gawai, atau tablet) tidak mereka miliki.

Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA  memaparkan Penelitian Bank Dunia yang berjudul “Simulating the Potential Impacts of Covid-19 School Closures on Schooling and Learning Outcomes: A Set of Global Estimates” menunjukan bahwa capaian reading test kelas 9 dan 10 (data PISA 2020) di 157 negara menurun drastis. Dalam skenario menengah, rata-rata siswa akan kehilangan 16 poin PISA sebagai akibat dari penutupan sekolah atau setara dengan setengah tahun pembelajaran di suatu negara.

Dalam skenario optimistis, siswa akan kehilangan 7 poin PISA, dan dalam skenario pesimistis, kehilangan 27 poin PISA. Efek simulasi serupa ditemukan juga di Asia Timur dan Pasifik, Eropa dan Asia Tengah, Amerika Latin dan Karibia, serta Timur Tengah dan Afrika Utara. Di Amerika Utara dan Kanada, siswa akan kehilangan 6 poin dalam skenario optimistis, tetapi 30 poin dalam skenario pesimistis.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved