Kisah Perajin Peti Mati di Majalengka,Laris Tapi Hati Menangis Selalu ada Pasien Covid-19 Meninggal
Di tengah jumlah kematian pasien Covid-19, sekelompok warga di Desa Jatimulya Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka disibukan dengan pesanan peti.
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mega Nugraha
"Senang dalam hal pendapatan, tapi kalau dari segi pembuatan sedih, artinya masih ada korban Covid-19," ujarnya.
Bahan-bahan pembuatan peti mati itu memerlukan kayu triplek, paku, lem, cat minyak.
Sementara, alat-alat yang digunakan, yakni palu, besi, kompresor dan lain-lain. Dalam prosesnya, triplek-triplek itu dipotong-potong dibentuk peti mati. Kemudian, diplamir lalu masuk tahap akhir, yaitu proses pengamplasan dan pengecatan.
Baca juga: Meledaknya Kasus Covid-19 di KBB Dicurigai Akibat Varian Delta, Dinkes KBB Langsung Uji Laboratorium
"Sejatinya tidak ada kendala, karena kami basicnya di pembuatan meubel, jadi peti-peti doang mah bisa," ucap Idar.
Produksi peti mati milik Idar per hari mencapai 10 unit. Meski memiliki usaha sampingan yang dianggap ironis, ia tetap berharap agar pandemi Covid-19 cepat usai.
"Saya sendiri pandemi Covid-19 cepat sembuh (berakhir)," jelasnya.
Sudah 81 Orang Pasien Covid-19 Meninggal
Sekretaris Dinas (Sekdis) Kabupaten Majalengka, per bulan Juni dari tanggal 1-27 angka kematian Covid-19 di Majalengka mencapai 81 orang.
Jumlah tersebut naik signifikan dibanding bulan-bulan sebelumnya yang mana hanya menyentuh angka 10 orang.
"Selama bulan juni (dari tgl 1 sd tgl 27 juni) 81 yang meninggal dan jumlah kasus yang terkonfirmasi 1933 kasus," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/membuat-peti-mati.jpg)