Sabtu, 18 April 2026

Feature

Melihat Petani Milenial Mengolah Kopi Buhun di Rancakalong Sumedang 

BUAH-buah kopi matang berwarna merah membuat mata jeli Shandra Silvia Nugraha (20) berbinar.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Shandra Silvia Nugraha (20), Petani Milenial Jawa Barat sedang memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (17/6/2021). 

Hasil petikan masing-masing Petani Milenial dikumpulkan kemudian dibawa ke tempat pengolahan di Markas Kelompok Tani Maju Mekar.

Tempat ini masyhur dengan sebutan Kopi Boehoen Nagarawangi.

Dalam pengolahan, setiap orang wajib untuk merasakan tugas-tugas pengolahan itu masing-masing, meski mereka terbagi ke dalam tiga kelompok.

Pengolahan pascapanen yang dilakukan antara lain rambangan, kemudian menyalakan mesin pulper, memecah kulit cherry, dan memilah sesuai cara pengolahan, hingga menjemur di dalam dry house.

Paling tidak, para peserta bimbingan mengenal dan merasakan mengolah kopi dalam tiga cara, yakni honey, fullwash, dan natural. 

Tak sampai di sana, mereka dikenalkan juga dengan proses huller, menghitung nilai cacat kopi, memanggang, hingga menyeduh.

Setiap segmen pelatihan dibimbing secara mendetail baik materi maupun pada latihan berpraktik, sehingga diharapkan para peserta menjadi ahli dalam bidang kopi yang akan menjadi modal mereka berwirausaha.

"Memang di Jawa Barat ini, petani kopi, yang kini juga diikuti oleh Petani Milenial, harus mengarah bukan hanya pada produktivitas, namun juga kepada kualitas. Tangkap peluang ekspor," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika, saat membuka acara itu melalui sambungan konferensi Zoom.

Si Jagur (nama benih kopi Jarang Gugur) Rancakalong memang punya anugerah alam tersendiri. Tanahnya yang subur membuat kopi juga tumbuh dengan sehat dan produktif.

Para petani seseungguhnya mulai aktif menanam kopi sejak pemerintah menerapkan sistem perlindungan hutan bersama masyarakat (PHBM).

Pada 2006, sebagian petani mulai menanam kopi dan kopi serempak ditanam pada 2010.

Pada pertama kali tanam, kopi yang dipilih adalah jenis Linie S.

Meski pada tahun yang sama, seorang petani bernama Engkos menemukan pohon kopi tua dari Blok Paniis, kawasan pegunungan Manglayang Timur.

Pohon tua itu disebut Si Buhun, kata yang berarti tua dalam bahasa Sunda.

Buah-buah kopi buhun lantas disemai kemudian ditanam berdekatan dengan yang berjenis Linie S. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved