Rabu, 6 Mei 2026

Peneliti Lacak dan Petakan Penyebaran Varian Delta, Feeling Ridwan Kamil Sudah Ada di Bandung

Peneliti kini tengah melacak dan memetakan penyebaran Covid-19 varian delta di Indonesia. Emil merasa varian ini sudah masuk Bandung.

Tayang:
outlookindia
Ilustrasi varian baru virus corona yakni virus Delta atau B.1.67.2 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Varian Delta 1617.2 telah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.

Penelusuran sementara ini, varian delta ditemukan di daerah Kudus dan Bangkalan.

Sejauh ini, penelusuran terkait asal datangnya virus tersebut masih terus dilakukan agar dapat diketahui darimana asalnya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan untuk memetakan persebaran virus ini, penelitian masih dilakukan melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS) atau surveilans meski belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

"Penelitian memerlukan WGS atau sampel yang jumlahnya lebih besar. Suatu saat nanti, kita bisa menelusuri dari mana virus tersebut berasal, dari mana masuknya dan menyebar ke mana saja," katanya saat menjawab pertanyaan media dalam agenda keterangan pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Selasa (15/6/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Dijelaskan lebih lanjut, adanya varian dari suatu virus dikarenakan itu adalah upaya virus untuk bertahan hidup.

Proses mutasinya ini akan berlangsung terus menerus apabila potensi penularan tersedia.

Karenanya, jika penularan masih terus berlangsung di tengah masyarakat, maka peluang virus untuk bermutasi masih ada.

Terkait vaksin yang diberikan kepada masyarakat saat ini, Wiku memastikan memiliki efektifitas tinggi karena efikasinya di atas 50 persen terpenuhi.

Meski demikian, penelitian lebih lanjut terkait ini masih terus dilakukan. Untuk memastikan bahwa vaksin yang digunakan adalah vaksin yang efektif.

"Vaksinasi yang dilakukan harus betul-betul bisa memberikan proteksi kolektif atau herd immunity dari masyarakat yang diberi vaksin," kata Wiku.

Emil : Feeling Saya Ada

Covid-19 varian Delta asal India yang jauh lebih menular dan lebih berbahaya dari varian sebelumnya diduga kuat sudah menyebar di Kota Bandung dan sekitarnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) terhadap sejumlah sampel Covid-19 di Bandung tengah dilakukan untuk memastikan hal itu.

Walaupun hasilnya belum keluar, pria yang akrab disapa Emil ini merasa bahwa varian delta tersebut memang sudah beredar di Bandung.

"Feeling saya, ada ya, tapi harus kita tunggu secara resmi," kata Emil di Markas Kodam III Siliwangi, Selasa (15/6/2021).

Kalaupun memang varian baru ini ada di Jabar, kata Emil, antisipasinya sebenarnya sama, yakni disiplin dengan penerapan protokol 5M, yakni menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas.

"Daya mematikannya tidak terlalu tinggi, ada catatannya. Tapi daya tularnya 2,4 kali lipat. Jadi kata Pak Menkes ibaratnya yang sekarang 1000 cc, tipe varian itu 3000 cc, jadi kecepatan menularnya tinggi, makanya lompatannya terduga dari sana juga," katanya.

Namun, para dokter di Cina, seperti dilansir The New York Times, menyebut varian Delta ini berbeda dan lebih berbahaya daripada versi asli virus korona.

Pasien yang terinfeksi varian Delta menjadi lebih sakit, dan kondisinya memburuk dengan lebih cepat.

Di Jawa Barat, kata Emil, kasus baru Covid-19 melonjak tajam pascalibur Idulfitri lalu.

Padahal pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di Jabar hingga hari H Idulfitri terbilang sangat berhasi.

"Sampai hari Idulfitri (keterisian) rumah sakit hanya 29 persen, rekor itu. Tiba-tiba lompatannya hanya dalam dua minggu dalam sebulan ini melompat ke 75 persen. Sudah melewati batas kritis 70 persen," katanya.

Di Bandung Raya, yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dan Kota Cimahi, lompatannya bahkan lebih tinggi lagi.

Keterisian rumah sakit di Bandung Raya sudah 84 persen.

Itu sebabnya, kata Emil, ia langsung memberlakukan status Siaga 1 Covid-19 untuk kawasan Bandung Raya ini.

Emil juga meminta masyarakat dari luar Bandung Raya untuk tidak berpergian ke wilayah Bandung Raya setidaknya hingga sepekan ke depan, termasuk untuk berwisata.

"Khususnya pariwisata yang memang selalu ramai ada di KBB dan Kabupaten Bandung, kebetulan keduanya zona merah," kata Emil.

Belajar dari peristiwa ini, kata Emil, Pemprov Jabar sangat merekomendasikan pada pemerintah pusat untuk tak lagi mengadakan libur panjang berikutnya, yakni selama Iduladha.

"Karena terbukti libur mudik Idulfitri betul-betul destruktif, ya, dalam keterkendalian yang sudah sangat baik selama PPKM mikro," katanya.

Menyusul pemberlakuan Siaga 1 ini,  sekolah tatap muka kembali ditunda pelaksanaannya, terutama yang berada di zona merah.

"Kedisiplinan kita baru 75 persen. Presiden menginstruksikan ke angka 90 persen. Maka kami terus akan menggiatkan, tadi instruksi ke TNI dan Polri untuk melakukan turun lagi ke lapangan mengingatkan, shock therapy juga, agar kedisiplinan meninggi. Jangan sampai kita lagi Siaga 1 tapi kedisiplinan malah turun," katanya.

Baca juga: Video Antrean di UGD Wisma Atlet, Bagaimana Kondisi Aslinya? Pasien Covid-19 Meningkat Sejak Lebaran

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved