Rabu, 10 Juni 2026

Raker IDIK UNPAD

Kepala BRIN ajak Riset Komunikasi Masyarakat di Era Industry 5.0

Hingga saat ini masyarakat masih menilai riset itu rumit namun hasilnya tidak aplikatif. Riset harus mudah dipahami, lengkap dan tidak over climed

Tayang:
Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Dr. Laksana Tri Handoko, MSc, Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat berbicara dalam webinar pebukaan Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD 2021-2024, Sabtu (29/5/2021). Menurutnya, Indonesia yang memiliki beragam budaya dan suku, sehingga dapat menjadi ladang riset komunikasi ilmiah yang dapat dijadikan bahan rujukan pemerintah dalam mengambil keputusan. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.ID- Indonesia yang memiliki beragam budaya dan suku, sehingga dapat menjadi ladang riset komunikasi ilmiah yang dapat dijadikan bahan rujukan pemerintah dalam mengambil keputusan. Apalagi di Era Industry 5.0 ini maka komunikasi lebih dibebankan pada media digital.

“Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) ini dapat melakukan riset di daerah yang memiliki banyak hal untuk dikaji dari sisi komunikasinya. Apalagi di daerah menerapkan otonomi daerah, sehingga riset komunikasi akan banyak menemukan hal baru,” jelas Dr. Laksana Tri Handoko, MSc, Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Sabtu (29/5/21).

Pada Rapat Kerja Nasional IDIK UNPAD 2021-2024 yang dibuka oleh Ketua Umum IDIK UNPAD, Dr. Pitoyo, M.IKom di Telkom University Bandung, dan secara online dengan semua pengurus dan anggota serta para dosen dan peniliti, Handoko menjelaskan, masyarakat saat ini lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan media digital. Untuk itu, lanjutnya, riset komunikasi memiliki ruang lingkup yang sangat luas.

Handoko menegaskan, pada riset termasuk komunikasi memiliki tiga tantangan besar. Pertama, siapa penanggungjawabnya. BRIN mengajak para peniliti termasuk peneliti komunikasi untuk berkolaborasi dengan lembaga riset yang ada, seperti LIPI, BPPT dan lainnya. Tantangan kedua yakni pemenuhan prinsip. Maksudnya, jelas Handoko, riset harus mudah dipahami, lengkap namun tidak rumit dan tidak over climed. Tantangan ketiga, perlu memperhatikan literasi masyarakat dan sosial budaya.

“Hingga saat ini masyarakat masih menilai riset itu rumit namun hasilnya tidak aplikatif. Keberadaan BRIN ini akan melakukan refocusing untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi berbasis sumber daya alam,” ungkap Handoko, Fisikawan Indonesia ini.

Prof Dr Atwar Bajari, MSi, Guru Besar Ilmu Komunikasi UNPAD mengatakan bahwa riset komunikasi masih didominasi riset dengan metode kuantitatif yang lebih menadasarkan pada hasil hitungan statistika, baru disusul metode kualitatif. Berdasarkan data riset nasional 2015 – 2040, sebanyak 328 riset kuantitatif atau 58,78 persen, sedangkan kualitatif 120 riset atau 21,51 persen.

“Ini tidak lepas dari masih kuatnya pemikiran bahwa penelitian dengan metode kuantitatif lebih mudah menjadi rujukan untuk kebijakan pemerintah maupun lembaga soisal dan bisnis,”ungkap Atwar Bajari.

Hal ini, lanjut Atwar Bajari, sangat berbeda dengan semangat riset di Program Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD, sebanyak 80 persen lebih menggunakan metode kualitatif dengan didominasi pendekatan fenomenologi. Selebihnya riset dengan menggunakan metode kuantitatif.

Atwar Bajari menegaskan bahwa kurangnya perhatian dunia terhadap riset berbasis kualitatif ini, karena adanya gold standard. Standar emas ini masih dijadikan rujukan para pengambil keputusan, sehingga riset yang menjadi perhatiannya adalah riset kuantitatif.

“Namun kita tidak perlu berkecil hati, karena masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita perlu menyakinkan publik bahwa penelitian kualitatif yang dapat dijadikan rujukan untuk kebijakan,” jelas Prof Dr Atwar Bajari, MSi yang juga Ketua Dewan Pakar Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD 2021-2024.

Dr Andry Alamsyah, MSc, Head of Social Computing and Big Data Laboratory Telkom University mengatakan, komunikasi masyarakat saat ini lebih banyak didominisi komunikasi dengan media digital. Hal ini tidak terlepas dari masa kini memasuki era industry 5.0. Dimana keberadaan internet bukan hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi, namun keberadaan internet menjadi bagian untuk membantu menyelesaikan keperluan hidup manusia di berbagai bidang.

Menurut Andry, komunikasi digital saat ini tidak terlepas dari peran big data dan algoritma. Hal ini berpengaruh kondisi psikologi masyarakat dan sosio politik. Bagaimana tidak, di era digitalisasi media ini, komunikasi menjadi terpetak petak, pada suka dan tidak suka. Sehingga individu yang menyukai angka merek tertentu, maka akan terus menerus mendapatkan pasokan informasi tentang berbagai hal merk tersebut.  Adapun merk yang tidak disukai justru tidak perlu dihindari, namun kerja algoritma sudah secara langsung menyisihkan merek yang tidak disukai tersebut.

“Kalau diperhatikan kenapa kerusuhan etnis di Amerika yang dipicu oleh kekerasan pada George Floyd itu menjadi besar, juga karena peran algorima di internet ini,” jelas Andry.

Berdasarkan hasil riset, jelas Andry, berita bohong (fake news) atau informasi bohong (hoax) justru lebih mudah tersebar berkat bantuan algoritma internet ini. Berbeda dengan berita yang baik, justru susah untuk viral. Jadi perubahan psikologi masyarakat tentang ekonomi, sosial dan politik ini banyak terjadi perubahan setelah adanya kinerja algoritma internet.

Webinar pebukaan Raker IDIK UNPAD yang dimoderatori oleh Dr Nurprapti Wahyu Widyastuti, MSi, yang juga Dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, diikuti oleh 126 orang dari anggota IDIK UNPAD, dosen ilmu komunikasi dan peneliti. Setelah Webinar dilanjutkan dengan rapat kerja pengurus harian IDIK UNPAD secara hybrid, yakni dari Kampus Telkom University dan zoom online.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved