Jumat, 24 April 2026

Petugas Pos Penyekatan Emplak Terlibat Kericuhan dengan Pengurus PHRI Pangandaran, Ini Awal Mulanya

Petugas merasa tidak dihargai ketika tiba-tiba pengurus PHRI Pangandaran lakukan ini di pos penyekatan.

Penulis: Padna | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Padna
Petugas Gabungan di Pos Penyekatan Bundaran Emplak bermediasi dengan Pengurus PHRI Kabupaten Pangandaran setelah sempat terjadi kesalahpahaman. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Penyekatan di Bundaran Emplak Kecamatan Kalipucang, diwarnai kericuhan antara petugas gabungan dengan pengurus PHRI Kabupaten Pangandaran, Sabtu (22/5/2021).

Kericuhan tersebut diawali dengan adanya pengurus PHRI yang datang ke lokasi penyekatan.

Pengurus PHRI meminta bagi calon wisatawan yang berada di jalur penyekatan dan sudah booking hotel untuk segera dimasukkan.

Pengurus PHRI ini memberikan pemberitahuan menggunakan pengeras suara. Mereka juga meminta calon wisatawan yang sudah booking untuk memperlihatkan kode bookingannya.

Para petugas gabungan yang berada di lokasi penyekatan tidak menerima dengan yang dilakukan pengurus PHRI.

Sempat terjadi kericuhan antara petugas gabungan di penyekatan Bundaran Emplak dengan pengurus PHRI Kabupaten Pangandaran.

Kapolsek Kalipucang Polres Ciamis, Kompol H Jumaeli mengatakan, memang tadi di saat penyekatan ada sedikit miskomunikasi antara petugas di lapangan dengan pengurus PHRI Pangandaran.

"Intinya mereka itu (pengurus PHRI), mungkin oleh petugas penyekatan di sini dianggap kurang pas. Padahal, Kami di sini itu hanya melaksanakan perintah tugas dari atasan," ujar Jumaeli saat ditemui Tribunjabar.id di sela sela istirahat tugasnya, Sabtu (22/5/2021).

Ia menegaskan, penyekatan di sini tidak ditutup total. Tapi di sini, dilakukan buka tutup akses jalan untuk kendaraan.

"Dan kami selektif, bagi mereka yang di luar Priangan timur (Pangandaran, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya) dan memiliki bukti bookingan hotel itu semua dimasukkan. Tidak ada yang diputarbalikan," kata Jumaeli.

Hanya, kata ia, kalau ada informasi dari Pangandaran penuh. Untuk sementara pihaknya memutar arah dahulu, agar longgar di kawasan objek wisata Pangandaran.

Kemudian, manakala sudah longgar, kendaraan wisatawan dimasukkan kembali ke Pangandaran.

"Yang kami sayangkan itu, dia (pengurus PHRI) tidak ada komunikasi kepada petugas yang ada di lapangan."

"Bahasa Sundanya itu, ujug-ujug ngambil situasi di sini. Dia berkoar-koar menggunakan mikrofon. Jadi seolah-olah, kami di lapangan kurang dihargai," kata Jumaeli.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved