Kamis, 7 Mei 2026

Suka dan Duka Bekerja Menjadi Kurir Ekspedisi, Alvy Pernah Panik karena Paket Hilang di Jalan

SEBAGIAN besar orang 'awam' menganggap pekerjaan kurir adalah pekerjaan yang paling gampang.

Tayang:
Penulis: Shania Septiana | Editor: Giri
kompas.com
ILUSTRASI - Suka dan duka bekerja sebagai kurir pengantar paket. 

Laporan wartawan TribunJabar.id, Shania Septiana

SEBAGIAN besar orang 'awam' menganggap pekerjaan kurir adalah pekerjaan yang paling gampang. Tanpa tenaga, tanpa mengeluarkan modal yang banyak, ya, paling-paling modal pulsa dan bensin karena hanya mengantar barang ke alamat atau si penerima, lalu selesai.

Padahal di balik semua itu, terdapat banyak cerita, baik suka maupun duka yang dialami setiap kurir sepanjang mengantarkan paket.

Hal itu diceritakan seorang kurir ekspedisi pengiriman barang swasta bernama Alvy.

Dia menceritakan beragam pengalamannya bekerja menjadi kurir selama setahun sembari kuliah.

"Sekarang saya semester delapan, sudah dari semester enam saya kerja. Selama itu juga biaya kuliah dan hidup, saya tanggung sendiri. Ternyata asyik ketika dijalani," ujarnya saat ditemui, Selasa (11/5/2021).

Kepanasan dan kehujanan itu sudah biasa. Belum lagi mendapat alamat fiktif, berupa alamat tidak lengkap beserta nomor handphone si penerima tidak aktif.

"Hujan, panas, dingin sudah jadi teman sehari-hari. Alamat fiktif, nomor penerima enggak aktif sudah sering dilewati," ucapnya.

Pria 22 tahun itu mengatakan, momen paling menyenangkan adalah ketika kembali ke gudang untuk mengambil barang. 

Di sana, dia bertemu dan bercerita dengan kurir lain.

Gudang eskpedisi J&T yang berlokasi di Jalan Raya Cipadung, Tritan Point, Kota Bandung, Selasa (11/5/2021).
Gudang eskpedisi J&T yang berlokasi di Jalan Raya Cipadung, Tritan Point, Kota Bandung, Selasa (11/5/2021). (Tribun Jabar/Shania Septiana)

Untung, rugi, dan apesnya bisa dia ceritakan 

"Seneng banget, kayak bisa berkeluh-kesah dulu gitu. Sambil packing, sambil cerita tadi ngirim gimana. Jadi semangat lagi kerjanya," ucapnya.

Menurutnya, setiap hari bertemu dengan teman sesama kurir, dengan kepala gudang, dengan back office, jadi pengalaman yang seru.

"Setiap jam 06.00 kami sudah ngumpul di hub (gudang) yang enggak jauh dari kosan saya. Milihin barang sesuai dengan area pengiriman. Kemudian mensortir barang mana yang harus diletakkan di paling bawah tas, dan mana yang paling atas untuk alamat yang paling dekat. Setelah itu mapping wilayah dan routing. Sedangkan pulangnya, entah sampai jam berapa tapi itu asyik sih. Kadang pulang ke gudang sambil revisian skripsi, suka diejekin sama temen-temen lain. Justru itu yang bikin seneng," ucapnya.

Sekarang, menjelang Lebaran, semakin banyak paket yang harus dia antar. Beragam ukuran, berat, dan jenis paket dia kirim setiap hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved