Breaking News:

Anggota DPRD Chris Julianto: Jangan Ada Pembiaran Kerumunan di Pusat Perbelanjaan!

Chris Julianto mengingatkan Covid-19 masih ada sehingga harus waspada, tapi situasi sangat berbeda tahun lalu dan tahun ini khususnya di bulan Ramadan

Penulis: Tiah SM | Editor: Hermawan Aksan
Tribunjabar.id/Ery Chandra
Salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bandung yang selalu ramai pengunjung. Anggota DPRD dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bandung Chris Julianto minta Pemerintah Kota Bandung memantau protokol kesehatan khususnya di mal dan tempat keramaian. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar , Tiah SM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggota DPRD dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bandung Chris Julianto minta Pemerintah Kota Bandung memantau protokol kesehatan khususnya di mal dan tempat keramaian.

"Tahun kedua pandemi, masyarakat bisa beraktivitas kembali, tapi tetap harus menerapkan protokol kesehatan," ujar Chris di Gedung DPRD, Sabtu (8/5/2021).

Chris mengingatkan Covid-19 masih ada sehingga harus waspada, tapi situasi sangat berbeda tahun lalu dan tahun ini khususnya di bulan Ramadan.

Baca juga: Melepas Rindu dan Syukur, Atalia Praratya Sembuh dari Covid-19 Ridwan Kamil Peluk Erat Sang Istri

"Tahun lalu tak ada kerumunan di pusat perbelanjaan dan restoran."

"Tapi tahun ini pusat perbelanjaan beroperasional normal, seperti tidak ada pembatasan, bahkan di beberapa tempat penuh sesak tidak ada physical distancing," ujarnya.

Chris menyesalkan adanya pembiaran dari pemerintah, orang berdesakan sehingga khawatir ada klaster Covid.

Menurut Cris, di pekan terakhir bulan Ramadan akan terjadi ledakan pengunjung.

Karena itu, dia minta Pemkot Bandung mematuhi dan mengawasi jalannya kegiatan masyarakat dengan protokol kesehatan terkait dengan Covid-19.

"Jangan sampai terjadi kasus Covid India menimpa Kota Bandung."

"Pemkot Bandung harus terus melakukan monitoring di tempat-tempat potensi kerumunan tinggi," ujarnya.

Chris minta pemerintah tegas kepada pelanggar protokol kesehatan, jika perlu mall kembali ditutup demi kesehatan.

Menurut Chris , ekonomi penting dan harus hidup, tapi tidak berarti mengabaikan kesehatan.

“Pemerintah Kota Bandung harus bisa lebih ketat lagi dalam monitoring protokol kesehatan, sesuai aturan jumlah pengunjung harus 50 persen dari kapasitas," ujarnya.

Chris minta pengelola mal mematuhi aturan daripada kena sanksi ditutup paksa. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved