Rumit dan Makan Waktu, Ini Proses Mengolah Kolang Kaling Dari Buah Aren
Berasal dari biji buah aren, namun siapa sangka proses pengolahannya tak semudah mengunyahnya, agak rumit dan memakan waktu.
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNCIREBON, MAJALENGKA- Siapa yang tidak mengenal kolang kaling. Cemilan kenyal berwarna putih transparan ini memiliki rasa menyegarkan.
Berasal dari biji buah aren, namun siapa sangka proses pengolahannya tak semudah mengunyahnya, agak rumit dan memakan waktu.
Di Desa Girimulya, Kecamatan Banjaran, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kolang kaling di Majalengka.
Baca juga: 20 Tahun Jual Kolang-kaling, Penjual Asal Majalengka Ini Keluhkan Ramadan Tahun Ini Sepi Pembeli
Pada bulan Ramadan, warga di sana sibuk memenuhi pesanan kolang kaling yang ramai dari bulan-bulan biasanya.
Bahkan, tak jarang butuh pekerja tambahan untuk membantu mereka memproduksi kolang kaling, mulai mengupas hingga memisah buah dari dahannya.

Untuk mengolah biji buah aren menjadi kolang-kaling, para pria biasanya bertugas memetik buah aren dari pohonnya di perkebunan desa setempat.
Sementara kaum wanita dan lansia yang mengolah hingga buah aren menjadi kolang-kaling.
Baca juga: KRI Nanggala 402 yang Hilang Didesain untuk Opreasi Senyap, Saat Aktif Pun Sulit Terdeteksi
Pekerja melakukan proses pemisahan buah dari tangkai pohon.
Ini harus dilakukan dengan hati-hati karena jika terkena getah buah aren bisa menderita gatal-gatal.
Buah tersebut kemudian direbus sekitar 1 jam dalam sebuah drum untuk menghilangkan getahnya yang gatal.

Selanjutnya, buah aren direbus agar kulitnya yang bertekstur keras bisa lunak.
Lalu dibelah menjadi dua untuk mengambil isinya yang sudah mengeras.
Baca juga: BREAKING NEWS, INNALILLAHI, Vokalis Band Boomerang Hubert Henry Limahelu Meninggal Dunia
Cara pengambilan bijinya pun, hanya menggunakan gagang sendok dengan mencongkel isinya agar keluar.
Setelah itu, dipipihkan untuk mendapatkan tekstur kenyal.
Sebelum dijual ke pengepul, kolang kaling harus kembali direndam selama tiga hari.
“Caranya masih manual, dan masih menggunakan alat seadanya,” ujar Iip Lutfirahma (52), warga Desa Girimulya yang sudah kurang lebih 20 tahun berjualan kolang-kaling, Sabtu (24/4/2021).
Baca juga: Trend Gempa Bumi dan Tsunami Naik, Lampau Kejadian Rata-rata, BMKG Ingatkan Ini
Sementara itu, basanya Iip menjual kolang-kaling seharga Rp 10.000 per kilogram (kg) pada hari biasa.
Namun, pada bulan Ramadan menjadi Rp 12.000 hingga Rp 15 ribu per kg bergantung ukuran.
“Ongkos produksinya naik, kadang kita harus tambah pekerja lagi,” ucapnya.
Dalam sehari, petani kolang-kaling bisa memproduksi hingga 20 kg per hari Selama Ramadan.
Dengan tingginya permintaan kolang-kaling tentu saja menjadi berkah bagi warga Desa Girimulya.
Namun, pandemi Covid-19 dan adanya saingan kolang-kaling Medan menjadi hambatan tersendiri bagi mereka.
Yang mana, omzet penjualan pun menurun karenanya.