Kondisi Terkini Bayi Kembar Hasna-Husna setelah Operasi Pemisahan, Demam, Belum Lewati Masa Kritis

Bayi kembar siam bernama Hasna Alfa Thunisa Nugraha dan Husna Alfa Thunisa Nugraha (Hasna-Husna) alami demam dan belum lewati masa kritis.

Istimewa
Bayi kembar siam bernama Hasna Alfa Thunisa Nugraha dan Husna Alfa Thunisa Nugraha (Hasna-Husna), yang sukses menjalani operasi pemisahan pemdempetan dada dan perut di Rumah Sakit Pusat dr Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. 

Tindakan operasi pemisahan bayi kembar siam pendempetan bagian perut dan dada ini berjalan lancar.  Proses operasi yang berlangsung sekitar 8-9 jam dari mulai tahapan sebelum operasi pada pukul 08.00 WIB tersebut melibatkan 90 anggota tim medis dari berbagai spesialisasi.

Berdasarkan tayangan video rekaman berdurasi 22 detik persiapan tindakan operasi yang di terima awak media dari Humas RSHS Bandung, kedua bayi yang merupakan anak kedua dan ketiga dari pasangan Tia Setiadi Nugraha dan Oom Komariah, warga Soreang, Kabupaten Bandung, tersebut, tampak sehat dan menggemaskan. 

Terlebih saat mengenakan kerudung merah marun, sambil tetap berada dalam dekapan tangan dari ibunya, di sebuah ruang perawatan RSHS Bandung.

Dikki Drajat Kusmayadi mengatakan sebelum tindakan operasi dilakukan, pasien datang dari Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) menuju kamar operasi. Di kamar PICU keduanya dilakukan tahap persiapan, termasuk pemberian anastesi atau pembiusan oleh dokter spesialis anastesi.

Selanjutnya, setelah seluruh tahap proses persiapan operasi dilakukan, sekitar pukul 10.00 WIB, satu tim spesialisasi bedah plastik melakukan desain sayatan dari bagian perut hingga dada, guna menentukan bagian-bagian yang dipotong dalam proses pembedahan.

"Kenapa harus didesain, karena setelah nanti dipisahkan, kemungkinan penutupan luka (pascaoperasi) agak sulit, yang disebabkan otot dan bagian kulitnya tidak memungkinkan untuk penutupan alami secara sederhana," ujarnya.

Selanjutnya, setelah dilakukan penyayatan oleh dokter bedah plastik, yang kemudian diteruskan oleh tim dokter bedah toraks dan spesialisasi bedah jantung. Kemudian, setelah dibedah, tampak terdapat selaput penutup jantung yang bersatu. 

"Setelah tampak adanya selaput penutup jantung yang bersatu, bagian itu tidak di buka dulu, dan tim bedah jantung memberikan akses kepada dokter bedah anak, untuk melakukan pemisahan liver (hati) dan mencari pembuluh darah yang menyilang untuk dibebaskan," ucapnya.

Dikki menuturkan, beberapa proses bedah pemisahan organ tubuh Hasna-Husna berlangsung cukup cepat. Bahkan, proses bedah pemisahan liver yang semula direncanakan berlangsung dua jam, ternyata satu jam telah mampu selesai dilakukan.

"Ketebalan organ liver yang dibebaskan dalam proses operasi oleh tim dokter itu mencapai sekitar 4 sentimeter, dengan panjang sekitar 10 sentimeter dari atas ke bawah. Selanjutnya, kami pun melihat saluran sistem pencernaan pasien, yang ternyata organ tersebut dimiliki masing-masing tubuh, sehingga tidak dilakukan pembedahan," ujar Dikki.

Menurutnya, seluruh rangkaian proses pemisahan berlangsung lancar dan cukup cepat, sekitar dua jam setengah lamanya. Setelah proses pemisahan dilakukan, selanjutnya, tindakan operasi dilakukan secara terpisah, dengan melibatkan tim medis yang telah ditentukan sebelumnya.

Disinggung terkait tantangan yang dirasakan saat tindakan berlangsungnya operasi, menurutnya selain proses pemisahan liver, tetapi juga pemisahan selaput jantung. Karena dua bayi ini hanya memiliki satu selaput jantung yang membungkus dua jantung, sehingga harus dipisahkan dan selaputnya ditutup lagi. 

"Kondisi dari pasien sejauh ini masih dalam keadaan stabil, dalam perjalanan operasi juga tadi tidak tampak adanya kendala yang berarti. Untuk tindakan operasi tahap kedua, kami masih menunggu perkembangan kondisi kedua bayi pascaoperasi, mudah-mudahan tidak ada (operasi kedua)," ucapnya.

Meski demikian menurutnya, pada salah satu pasien bayi, akan terdapat luka pada bagian samping kiri dan kanan dari kulit bagian tubuhnya, dengan tujuan kulit bagian depan atau dada dan perutnya dapat di tutupkan, dengan adanya pelapis bagian perut, untuk membuat perut bisa ditutup tanpa meninggalkan kondisi kulit yang ketat pascabedah operasi.

"Apabila setelah tahap itu (penutupan bagian perut) dilakukan, dan tidak adanya infeksi atau penolakan dari tubuhnya, InsyaAllah tidak diperlukan lagi operasi selanjutnya. Kecuali, untuk luka di bagian samping kiri dan kanan tubuhnya yang tetap memerlukan tindakan operasi cangkok kulit," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved