Breaking News:

Ramadan 1442 H

Begini Tanggapan MUI dan Persis Jabar tentang Diizinkannya Tarawih dan Salat Id Berjemaah

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Akhyar, mengaku sepakat dengan arahan pemerintah pusat tersebut.

Tribun Jabar/M Syarif Abdussalam
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Akhyar, mengaku sepakat dengan arahan pemerintah pusat yang mengizinkan penyelenggaraan salat Tarawih dan Idulfitri secara berjemaah di masjid atau di lapangan terbuka. 

Laporan wartawan Tribun Jabar.id, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Pusat melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengizinkan penyelenggaraan salat Tarawih dan Idulfitri secara berjemaah di masjid atau di lapangan terbuka, sepanjang jemaahnya masih dalam satu komunitas.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Akhyar, mengaku sepakat dengan arahan pemerintah pusat tersebut.

Bahkan, pihaknya akan segera mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat, para ketua ormas Islam, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat, untuk diteruskan ke pemerintah dan pengurus di tingkat bawah wilayah masing-masing.

Baca juga: Ramadan 7 Hari Lagi - Ini Panduan Ibadah Ramadan yang Diterbitkan Kemenag di Tengah Pandemi Covid-19

Baca juga: Soal Jam Kerja ASN di Bulan Ramadan, Pemkot Sukabumi Masih Tunggu Surat Edaran dari Kemenpan RB

"Mudah-mudahan besok keluar suratnya. Termasuk memanfaatkan media sosial yang kami miliki," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (5/4/2021).

Menurut Rafani, meski penyelenggaraan ibadah salat Tarawih dan Idulfitri diperbolehkan, penyelenggara dan jemaah harus tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan secara ketat.

Hal ini merupakan upaya mencegah kemudaratan, yaitu meningkatnya kembali penyebaran pandemi Covid-19.

"Kalau Pak Menko PMK menyebut penyelenggaraan ibadah harus jemaah yang dari satu komunitas, bahasa kami itu berada dalam lingkungan masyarakat setempat."

"Umpamanya di lingkungan masjid yang sama atau permukiman yang sama."

"Jadi kalau masyarakat dari luar, diimbau untuk tidak ikut, bukan persolaan kenal tidak kenal, tapi sebagai upaya memberikan rasa aman dan nyaman dalam beribadah saja," ucapnya.

Halaman
123
Penulis: Cipta Permana
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved