Kisah Nelayan Pantura, Melaut Tengah Malam, Lawan Ombak dan Cuaca Buruk, Cuma Dapat Rp 150 Ribu

Kisah nelayan Pantura yang melaut tengah malam melawan ombak dan cuaca buruk untuk mencari ikan

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Siti Fatimah
Para nelayan Pantura yang melaut tengah malam melawan ombak dan cuaca buruk untuk mencari ikan. Hasil tangkapan yang dijual dikisaran Rp 3 juta hingga Rp 2 juta bahkan kadang kurang yang hasilnya dibagi 10 alias satu orang cuma dapat antara Rp 300 ribu hingga Rp 150 ribu. 

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Semenjak tiga hari terakhir para nelayan tradisional Desa Mayangan gagal melaut diakibatkan oleh cuaca buruk, para nelayan hanya murung menunggu cuaca membaik sembari memperbaiki jaring dan alat tangkap mereka yang rusak.

Para nelayan di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon kini tengah berlabuh di Pantai Pondok Bali, dikatakan Warso (39) salah satu nelayan asal Cirebon yang berlabuh di Desa Mayangan mengatakan, ia biasa berangkat melaut malam hari, namun jika cuaca buruk dan angin kencang ia bersama kawannya memilih berlabuh sementara di Desa Mayangan.

"Tergantung angin, kadang paling lama bisa seminggu, tiga sampai empat hari rata-rata cuaca buruk berlangsung," ujar Warso ketika diwawancara Tribun di Pantai Pondok Bali, Desa Mayangan, Legonkulon, Subang. Senin (15/3/2021).

Baca juga: KABAR GEMBIRA bagi Pencinta Cabai Rawit, Panen Raya Sebentar Lagi, Harga Diharapkan Turun

Diketahui sebelumnya beberapa kelompok nelayan Patimban terdampak atas adanya pembangunan Pelabuhan Internasional Patimban, namun tidak dengan Warso.

Warso mengungkap isu nelayan terdampak pelabuhan mungkin benar adanya,

"Mereka yang terdampak mungkin nelayan yang ada di perairan dangkal dengan pantai yang menggunakan perahu kecil, dan daerah tangkapannya sekitar Patimban, kalau kami tidak," imbuhnya.

Secara terpisah Paturi (52) nelayan asal Desa Mayangan mengatakan, ia juga terpaksa tidak melaut karena cuaca buruk,

Baca juga: Kronologi Kades Digeruduk Warga di Banyumas karena Mati Lampu, Takut Tak Bisa Nonton Ikatan Cinta

"Kita tidak melaut anginnya kencang, biasanya angin kencan ini gak tentu, kadang dua hari kadang sampai empat hari," ujar Paturi kepada Tribun.

Paturi mengungkap ketika ia tidak bisa melaut, ia hanya mengandalkan biaya kehidupan dari hasil tangkapan sebelum cuaca buruk

"Hasil sebelumnya meski harus ngirit kita bisa pakai belanja kebutuhan sampai dua atau tiga hari kedepan, jadi sekarang untuk makan yah ngandelin hasil melaut Jumat kemarin," pungkasnya.

Paturi mengatakan penghasilannya dalam satu kali melaut bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Baca juga: Gunakan Kartu JKN-KIS, Peserta ini Dapat Pelayanan Prima Dari Rumah Sakit

"Kalau berangkat malam biasanya, pengasilan tergantung hasil tangkapan, biasanya Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, itu juga kita bagi saya berangkat 10 orang paling rata dapat Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu, paling kecil Rp 150 ribu dapat lah." kata Paturi.

Terlihat di lokasi Pantai Pondok Bali puluhan nelayan hanya pasrah menunggu cuaca membaik, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya mengisi waktu dengan memperbaiki jaring dan alat tangkap mereka.

Pekerjaan para nelayan bukanlah hal yang mudah, selain pekerjaan mereka sering dipengaruhi cuaca hasil tangkapan mereka juga tak berbuah manis jika kondisi laut dan pasang surut ombak dalam keadaan tidak stabil.

Terlebih mereka juga harus ekstra dalam memperhatikan kondisi kapal, jika tidak, mungkin nyawa mereka yang jadi tahurannya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved