Sabtu, 9 Mei 2026

Gempa Bumi

Mengenang Gempa Bumi 1971: Tanah Berguncang Ketika Kawah Candradimuka Bergolak

Keluarga yang sedang berbahagia itu mengundang dalang Ki Dyatmaja dari Cikampek, dalang yang cukup punya nama waktu itu.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
istimewa
gempa bumi (ilustrasi) 

Oleh Hermawan Aksan

SAYA baru kelas dua SD waktu itu. Malam itu ada warga desa kami, namanya Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang sedang mengadakan hajatan mengkhitankan anaknya.

Keluarga itu, yang dikenal sebagai keluarga terkaya di desa kami, merayakannya dengan pentas wayang golek.

Meskipun terletak di Jawa Tengah, penduduk desa kami berbahasa dan budaya Sunda meskipun bahasa Sundanya berbeda (lebih kasar) daripada bahasa Sunda di Priangan.

Baca juga: Ancaman Sesar Lembang, Berpotensi Gempa Bumi, Akan Ada 10 Desa Tangguh Bencana di KBB

Baca juga: Jangan Panik saat Tanah Bergetar, Ini Cara Melindungi Diri Sesuai Tempat saat Gempa Bumi Terjadi

Keluarga yang sedang berbahagia itu mengundang dalang Ki Dyatmaja dari Cikampek, dalang yang cukup punya nama waktu itu.

Sindennya Hj. Upit Sarimanah, yang juga tersohor di kalangan masyarakat Sunda.

Saya tidak menonton pertunjukan itu karena sore-sore saya ketiduran, padahal saya senang wayang golek.

Tahunya saya sudah di depan rumah dan melihat orang heboh berlarian dan berteriak “Aya! Aya! Aya!” yang menunjukkan sedang terjadi gempa bumi dan orang-orang sedang memberi tahu “sapi” penyangga bumi bahwa di bumi masih ada manusia.

Ibu bercerita bahwa saya dibopongnya keluar dari tempat tidur di dalam rumah.

Gunung Slamet meletus mengeluarkan asap hitam bercampur uap air pada Kamis (13/33/2014) sekitar pukul 07.00 WIB.
Gunung Slamet meletus mengeluarkan asap hitam bercampur uap air pada Kamis (13/33/2014) sekitar pukul 07.00 WIB. (KOMPAS.com/Ari Himawan Sarono)

Malam itu kami sekeluarga tidak ada yang tidur di dalam rumah.

Kami tidur di mobil angkutan desa (mobil itu bermerek Dodge, mobil truk peninggalan zaman perang yang dimodifikasi menjadi mobil angkutan manusia dan barang).

Paginya, saya melihat berbagai barang dagangan, terutama makanan, dengan pikulan-pikulannya, berceceran di sisi jalan, bahkan banyak yang juga bertebaran di tengah jalan desa.

Dari cerita-cerita orang, saya bisa menyusun gambaran tentang apa yang terjadi malam itu.

Dalam pertunjukan wayang itu, ki dalang menampilkan lakon “Jabang Tutuka”, cerita tentang kelahiran Gatotkaca.

Gatotkaca
Gatotkaca (web)

Dikisahkan bahwa tak lama setelah lahir, Jabang Tutuka langsung dimasukkan ke Kawah Candradimuka, kawah gunung yang luar biasa panas dan bergolak, untuk ditempa sehingga di kemudian hari akan tumbuh menjadi ksatria yang sakti mandraguna.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved