Senin, 8 Juni 2026

Mengenal Hutan Cagar Alam Pananjung di Pantai Pangandaran

Pengunjung kawasan konservasi Cagar Alam Pananjungyang ada di Kabupaten Pangandaran menurun akibat pandemi Covid-19

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: Siti Fatimah
Pengunjung kawasan konservasi Cagar Alam Pananjungyang ada di Kabupaten Pangandaran menurun akibat pandemi Covid-19. Selain itu, koleksi satwa juga mulai berkurang. Pihak pengelola berharap ada tambahan satwa dan wahana baru untuk menarik kunjungan wisatawan. 

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Cagar Alam Pananjung merupakan kawasan konservasi yang ada di Kabupaten Pangandaran.Wilayah hutan yang diapit dua teluk ini memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem yeng dilindungi dan dikembangbiakan secara alami.

Secara administratif, Cagar Alam Pananjung berada di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran. Dengan luas keseluruhan area lahan Cagar Alam Pananjung mencapai 1000 hektare.

Cagar Alam Pananjung memiliki daya tarik wisata, area seluas 37,7 hektare dijadikan sebagai Taman Wisata Alam (TWA). 

Baca juga: Jangan Dulu Panik Saat Ada Gempa Bumi, Sebaiknya Lakukan 9 Hal Penting Ini Saat Terasa Guncangan

Sisanya, Cagar Alam Pananjung dibagi menjadi dua kawasan, yakni area Cagar Alam seluas 419,3 hektare, dan area Cagar Alam Laut seluas 470 hektare.

Sekarang, kawasan TWA sendiri dikelola oleh Perum Perhutani. Sementara kawasan Cagar Alam dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Meski sebagai kawasan perlindungan satwa dan tumbuhan langka, Cagar Alam Pananjung juga dijadikan sebagai kawasan wisata Pangandaran. 

Baca juga: Sesar Lembang Bisa Picu Gempa Bumi Magnitudo 6.8 SR, Wilayah Ini Berpotensi Alami Kerusakan Tinggi

Hanya sebagai catatan, para pengunjung yang datang tidak merusak keberadaan kawasan sebagai habitat satwa dan tumbuhan langka di sana.

Selain binantang endemik Hutan Pananjung, diantaranya primata juga ada sejenis, monyet dan lutung.

Pada zaman dulu Pemerintah Hindia Belanda pernah mendatangkan satwa dari luar kawasan, yakni rusa dan banteng Jawa.

Sampai sekarang, koleksi rusa masih lestari dan terus berkembang biak.

Sementara, banteng sendiri sudah tidak ada lagi.

Baca juga: Mohamed Salah Bertahan di Liverpool, Barcelona dan Real Madrid Pun Gigit Jari

Punahnya banteng-banteng koleksi Cagar Alam Pananjung, terutama terjadi pada tahun 1982 hingga 1983, akibat letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Koleksi banteng di Cagar Alam Pananjung didatangkan Pemerintah Hindia Belanda ketika Pananjung dijadikan sebagai hutan buru pada tahun 1930-an.

Ketika mempersiapkan Pananjung sebagai hutan buru, pada tahun 1934, dilepaskan banteng yang jumlahnya mencapai 60 hingga 80 ekor.

Populasinya lumayan bagus, itu terjaga sampai tahun 1982.

Baca juga: Ribuan Warga Mengungsi, Ratusan Rumah Terendam Banjir Akibat Jebolnya Tanggul Sungai Cipanas

Namun, setelah Gunung Galunggung meletus sangat signifikan pengaruhnya pada habitat banteng di Cagar Alam Pananjung

Sampai pakan dan sumber mata air minumnya tertimbun abu vulkanik.

Dari situ penurunan populasi banteng mulai drastis.

Meskipun petugas sudah berupaya membuat bak air minum dan diambilkan rumput dari luar sebagai makanannya, namun tampaknya banteng-banteng itu kurang menyukai pakan yang diambilkan manusia.

Satwa ini, hanya menyukai makanan alami yang sudah berada di alam.

Baca juga: Peluang Usaha Cuci Sepatu, Mahasiswa Ini Bisa Dapat Pelanggan Bukan Hanya Warga, Tapi Juga Artis

Abu vulkanik Galunggung menutup hamparan rumput sebagai pakan satwa banteng terjadi cukup lama.

Abu vulkanik menutup rumput selama 8 bulan. Pada tahun 1997 satwa banteng ini masih terpantau ada, namun sekarang sudah tidak ada.

Setelah punahnya banteng, untuk melengkapi koleksi Cagar Alam Pangandaran, sekitar pada tahun 2003, dipopulasikan delapan ekor sapi bali. 

Bentuk sapi bali ini, sangat mirip dengan banteng meskipun perkembangbiakannya tidak sebagus banteng dahulu.

Baca juga: Apa Perbedaan Skala Richter dan Skala MMI untuk Mengukur Kekuatan Gempa Bumi? Ini Penjelasannya

Koleksi sapi Bali yang berada di kawasan cagar alam terkadang dapat dijumpai dipadang penggembalaan Cikamal atau disebut juga lapangan Banteng, namun jumlahnya terus berkurang.

Menurut Polhut yang bertugas di cagar alam Pananjung Tahyadi (55) mengatakan, sampai sekarang jumlah sapi Bali tinggal 1 ekor.

"Yang tadinya lumayan banyak, sekarang hanya tinggal 1 ekor. Itu mungkin karena mati ketuaan," ujar Tahyadi saat ditemui Tribunjabar.id di kantor balai cagar alam Pananjung, Minggu (28/2/2021).

Tahyadi berharap, kedepannya bisa didatangkan lagi banteng Jawa dan juga, di Cagar alam ini ditambah wahaya yang bisa menarik perhatian para wisatawan.

"Kita ingin, cagar alam ini ramai seperti dahulu lagi. Sekarang paling yang berkunjung hanya 10 persen, apalagi semenjak adanya wabah Virus Corona," ucapnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved