Breaking News:

Bangun Pengelolaan Sampah Mandiri, KSM Al Falah Sulap Sampah Menjadi Paving Block

Berawal dari banyaknya warga yang masih membuang sampah sembarangan, Kelompok Swadaya Masyarakat

ilustrasi
Bangun Pengelolaan Sampah Mandiri, KSM Al Falah Sulap Sampah Menjadi Paving Block 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Berawal dari banyaknya warga yang masih membuang sampah sembarangan, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Al Falah membangun tempat pengelolaan sampah mandiri di Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.

Ketua KSM Al Falah, Nurjaman (45) mengatakan sampah yang diolah di mesin pengolahan tersebut adalah sampah non organik kemudian disulap menjadi Paving Block.

"Sampah yang dibakar melalui mesin pembakaran akan menghasilkan abu dan menjadi bahan untuk pembuatan  Paving Block," katanya. Rabu (27/1/2021).

Tempat pengolahan sampah tersebut berdiri dari keprihatinan Nurjaman atas kondisi sampah di lingkungannya yang tidak terkendali.

"Kami bersama pengurus semua, sama rekan-rekan untuk membuat inovasi seperti ini karena prihatin, ternyata banyak orang yang membuang sampah sembarangan tapi Alhamdulillah semenjak ada TPS  ini kami masyarakat terbantu dengan adanya TPS ini,” katanya. 

Update Kasus SPPD Fiktif Kabupaten Subang, Penahanan Sekda Diperpanjang 40 Hari

Nurjaman telah membangun tempat pengelolaan sampah tersebut sejak januari tahun 2019 lalu dengan dukungan pemerintah desa setempat.

“Alhamdulillah Kepala Desa mendorong kami, dengan adanya ini pemerintah apalagi desa, Kepala Desanya sangat membantu.” ungkapnya.

Sejak satu tahun beroperasi, Nurjaman dan anggotanya menemui banyak kendala dalam mengelola sampah tersebut.

Tidak semua sampah bisa ia olah karena keterbatasan alat, tidak adanya mesin pencacah plastik, minimnya operasional, dan keterbatasan mesin menjadi faktor utama pengolahan tidak maksimal sepenuhnya. 

"Mesin kami terbatas, kami jual aja ke pengepul lagi, operasional aja kami sangat minim, ini satu bulan itu operasional kami itu hampir habis satu juta setengah  dari uang-uang sampah yang bayar dua ribu perminggu delapan ribu per bulan," katanya.

Tersinggung Disebut Pungli oleh Wali Kota Bandung, Pemikul Jenazah Covid-19 Pilih Mogok Kerja

Bayaran pegawai yang mengelola sampah hanya mengandalkan iuran yang ditarik dari warga sebesar  dua ribu rupiah, sehingga hal ini dirasakan kurang  untuk mencukupi kesejahteraan pegawai pengelola sampah tersebut.

Nurjaman berharap ke depannya KSM Al-Falah Desa Mekarwangi mempunyai mesin pencacah agar sampah botol plastik bisa diolah sendiri tidak langsung dijual ke pengepul, sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih.

“Harapan ke depanya kalau bisa ingin memiliki mesin pencacah, buat mencacah plastik biar kami tidak menjual ke pengepul,” ucapnya.

Penulis: Sidqi Al Ghifari
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved