Gedebok Pohon Pisang di Kalipucang Pangandaran Diolah jadi Makanan Ringan yang Krispi
Kreatif dan inovatif, warga di Tunggilis Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran, mengubah gedebok pohon pisang
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Pangandaran, Padna
TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Kreatif dan inovatif, warga di Tunggilis Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran, mengubah gedebok pohon pisang menjadi makanan yang enak dan layak konsumsi.
Gedebok pohon pisang yang memiliki kandungan vitamin C ini, dapat dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi makanan ringan, yang dapat di makan saat sedang santai atau ngobrol sama teman.
Mencarinya juga tidak susah, karena pohon pisang ini banyak tumbuh di wilayah perkampungan dan hampir semua memiliki pohon pisang.
Semua bagian pohon pisang ini, seperti buah pisang dan daunnya, banyak dimanfaatkan oleh semua warga, tapi dengan bagian bonggol dan batangnya jarang di manfaatkan oleh warga.
Kebanyakan warga membuangnya atau digunakan untuk pupuk pohon pisangnya sendiri.
Baca juga: Bupati Sukabumi Minta Para Ulama dan Tokoh Masyarakat Ikut Sosialisasikan Vaksin Covid-19
Namun, beda dengan yang satu ini, beberapa ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), gedebok pohon pisang ini dapat digunakan sebagai bahan dasar membuat makanan ringan krispi yang renyah.
Gedebok pohon pisang yang dulunya sering dibuang, kini mereka olah menjadi makanan ringan Keripik Krispi Debong atau Krisbong.
Cara untuk mengolah pun tidak terlalu rumit, setelah gedebok batang pohon tersedia, gedebok tersebut diiris tipis-tipis dan di rendam satu hari satu malam dengan menggunakan kapur sirih.
Tujuannya, adalah untuk menghilangkan rasa keset pada gedebok pohon pisang tersebut.
Setelah dilakukan pengirisan, selanjutnya hasil irisanya dicampur tepung kering dan langsung ke proses penggorengan.
Kemudian hasil penggorengannya, dicampur bumbu penyedap rasa seperti atom atau lainnya sesuai dengan rasa yang diinginkan.
Tapi ingat, gedebok yang bisa di olah menjadi Krisbong, hanya debong pohon pisang kepok karena saat dikonsumsi rasanya tidak keset.
Baca juga: Dua Pasien Positif Covid-19 di Kota Sukabumi Meninggal, Kini Tercatat Ada 70 Kasus Kematian
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Tunggilis, Atik mengatakan ini hasil karya kreativitas dan inovasi yang muncul dari kelompok.
"Awalnya, dulu hanya dikonsumsi oleh kelompok saja, ketika sedang kumpulan," kata Atik, saat ditemui Tribun Jabar dirumahnya, Rabu (13/1/2021).
