Breaking News:

Pengambilan Pasir Laut di Tasik Jadi Pelanggaran Kelautan selain Keramba Tanpa Izin di Sukabumi

Azis mengatakan, untuk Kabupaten Sukabumi pelanggaran banyak dilakukan soal izin pemanfaatan ruang laut.

Tribun Jabar/ Ferri Amiril Mukminin
Kasi Pengawasan Sumber Daya Kelautan Provinsi Jabar, Abdul Azis 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Kabupaten Tasikmalaya tercatat sebagai kawasan dengan pelanggaran paling tinggi di wilayah laut selama tahun 2020 diikuti oleh Kabupaten Sukabumi.

Kasi Pengawasan Sumber Daya Kelautan Provinsi Jabar, Abdul Azis mengatakan, pelanggaran yang ditemukan selama tahun 2020 sebanyak empat kasus.

"Paling tinggi berdasarkan laporan dari masyarakat adalah Kabupate Tasikmalaya di wilayah Cipatujah, hal yang dilaporkan adalah pengambilan pasir laut," ujar Azis ditemui di kantor UPTD Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jabar di Jalan Raya Ciherang-Pacet Cianjur, Kamis (7/1/2021).

Azis mengatakan, untuk Kabupaten Sukabumi pelanggaran banyak dilakukan soal izin pemanfaatan ruang laut.

"Banyak yang memasang keramba di laut tanpa izin, masyarakat belum memahami segala bentuk aturan yang ada," katanya.

Wilayah lainnya yang banyak pelanggaran adalah kawasan laut Pangandaran. Di kawasan ini banyak nelayan Jatim, Jateng bahkan dari Sulawesi merapat di laut Pangandaran. Mereka merapat sambil menangkap ikan dan menjualnya.

Azis mengatakan, fungsi pengawasan yang dilakukannya agar masyarakat patuh terhadap peraturan dan tak melanggar.

Baca juga: Tahun Baru 2021, Smartfren Unlimited Makin Unlimited dengan Extra Unlimited Malam

Baca juga: Viral Kades di Purwakarta Bentak Warga, Ribut Urus Tanah Enggak Kelar, Diminta Uang, Ini Kata Camat

"Wilayah laut memiliki beberapa peraturan, banyak warga yang belum mematuhinya," kata Azis.

Azis mencontohkan, untuk wilayah laut misalnya tak boleh diambil pasirnya, jika tanahnya jadi tempat wisata harus menempuh perizinan.

"Karena ada beberapa laut menjadi kawasan konservasi dan perlindungan bagi bahaya tsunami," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk wilayah Cianjur dilihat dari tingkat kepatuhan masih aman dan belum ada gejolak laporan mengenai permasalahan kelautan.

Baca juga: Tak Makan Nasi 2 Tahun, Penyakit Otak Juwita Bahar Kambuh, Koma 15 Hari, Kesempatan Hidup 50 Persen

Baca juga: Oded-Yana di 2021: Covid-19 Belum Berakhir, Tantangan Akan Berat, Kerja Keras Pulihkan Ekonomi

Penulis: Ferri Amiril Mukminin
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved