Kamis, 28 Mei 2026

Pusat Isolasi Covid BPSDM

Seperti Mimpi, Ada Bakso Malang di Antara Menu yang Diantar Petugas Sore Hari

Kadang-kadang, kami juga iseng berlomba menebak, menu apa yang diantar ke kamar pagi hari. Kadang tebakan kami benar, tapi seringnya keliru.

Tayang:
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
TRIBUN JABAR
Seperti mimpi, ada bakso malang di antara menu sehat yang diantar petugas ke kamar. 

Laporan Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar

PUSAT isolasi mandiri untuk pasien Covid-19 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Barat, Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi, jauh dari kata menyeramkan. Tempatnya sangat nyaman. Fasilitasnya seperti di hotel.

Jendela kamar 314, di mana saya diisolasi, tepat menghadap ke timur. Ini sungguh sangat saya syukuri. Di kamar, saya bisa berjemur sambil rebahan, kecuali beberapa hari lalu saat hujan yang turun sejak malam ternyata masih berlanjut hingga menjelang siang.

Dari jendela, lalu-lalang orang-orang yang berada di luar pagar pembatas bisa terlihat. Kadang samar juga terdengar suara tawa gembira mereka saat bercanda. Saya selalu senang setiap kali mendengarnya. Tawa mereka sungguh mencerahkan hari.

Hal lain yang juga sangat saya syukuri adalah fasilitas wifi-nya yang lumayan kencang untuk sekadar Youtube-an. Ini menjadi hiburan yang menyenangkan karena gambar dari televisi 70 inch yang ada di kamar sangat runyam meski sudah diutak-atik dengan segala cara. Paling tidak, saya bisa menikmati konser-konser Rolling Stones di Youtube sepuas hati, menyimak berbagai berita melalui TV streamming, atau mendengarkan ceramah-ceramah Ustaz Abdul Somad yang gembira dan menyejukan.

Soal makanan, bisa dibilang melimpah. Makanan diantar ke kamar tiga kali sehari. Makanannya enak-enak, kecuali bagi mereka yang masih kehilangan indra penciuman dan pengecapan.

Baca juga: Dari Tepi Rooftop Mereka Terlihat, Tapi Tak Terjangkau

Buat mereka yang terpapar Covid dan bergejala, nasi selembek apa pun akan terasa keras. Ini saya alami saat pertama tiba di BPSDM. Baru pada hari ketiga makanan mulai terasa enak dan harum. Buat saya, bisa enak lagi makan dan minum adalah pertanda kesembuhan. Tanda bahwa virus corona yang ada di tubuh ini mulai kalah dan melemah.

Kadang-kadang, kami juga iseng berlomba menebak, menu apa yang diantar ke kamar pagi hari. Kadang tebakan kami benar, tapi seringnya keliru.

Menu di sini memang selalu berubah. Kadang nasi goreng dengan segala perniknya, kadang nasi liwet lengkap dengan gepuk, sambal, lalaban, dan oseng genjernya. Pernah juga, saat ingin sekali bakso, tiba-tiba di antara menu sehat yang dikirim ke kamar sore hari, terselip bakso malang lengkap yang kuah dan sambalnya maknyus banget.

Ini seperti mimpi yang mendadak menjadi kenyataan. Terasa sekali Tuhan begitu sayang, begitu perhatian, bahkan pada hal-hal kecil yang sempat terselip sebentar di hati: bakso malang.

Beragam
Tak hanya makanan, penghuni pusat isolasi di BPSDM juga beragam. Kebanyakan pegawai negeri sipil. Namun, banyak juga tenaga kesehatan, kepolisian, mantan pegawai negeri sipil, dan masyarakat biasa seperti saya dan istri. Kami diperlakukan sama baiknya, sama istimewanya.

Di antara kami ada juga yang membawa serta anaknya yang masih bayi atau balita karena ikut terpapar. Saya tak bisa membayangkan sedih dan bingungnya mereka saat tahu mereka sekeluarga terpapar Covid. Bukan saja khawatir pada kondisi diri dan anak-anaknya yang terpapar, tapi juga gamang dengan reaksi tetangga dan orang-orang dekat yang belum tentu bisa menerima.

Seorang teman di rooftop mengaku, ia dan suaminya terpaksa berangkat subuh sebelum para tetangga bangun untuk menuju ke tempat di luar kompleks di mana ambulans akan menjemput. Padahal, mobil ambulans baru akan menjemput menjelang siang.

Teman lain yang baru keluar dari pusat isolasi setelah hasil swab PCR-nya negatif mengaku, tetangganya sempat menjauh karena takut saat melihatnya tiba di rumah. Padahal, kalau pun mau, yang takut terpapar seharusnya adalah teman saya itu. Sebab, ia sudah pasti "bersih" karena sudah menjalani berbagai tes yang bisa membuktikan itu, sementara para tetangganya justru belum tentu. Mereka merasa dirinya "bersih" dari corona karena belum ada tes yang mereka jalani. Ini berarti, sesungguhnya tak ada jaminan bahwa mereka benar-benar "bersih" atau sebaliknya.

Di rumah, kami beruntung memiliki para tetangga yang baik dan mengerti betul bagaimana harus bersikap saat tetangga atau diri mereka terpapar Covid. Mereka paham bahwa menjaga jarak bukan berarti menjauhi apalagi mengucilkan.

Mulai dari saat kami isolasi di rumah sampai berada di pusat isolasi mandiri ini, tetanggalah yang banyak mengurus kami. Setiap hari mereka mengantar makanan dan menyimpannya di pagar sambil mendoakan agar kami segera sembuh. Mereka bahkan ikut mengantar kami sampai masuk ke ambulans dalam jarak yang aman dan terus melambaikan tangan hingga kami menghilang di kelokan.

Ini kebaikan yang tak akan mungkin pernah saya lupakan seumur hidup. Sebab, bagaimanapun mereka tentu takut juga ikut terpapar saat tetangganya terkena corona. Tapi ketulusan mereka untuk membantu mengalahkan itu. Ssungguh, saya tak mungkin bisa membalas kebaikan itu. (bersambung)

* Tulisan ini juga dimuat pada Tribun Jabar edisi cetak, Jumat 11 Desember 2020

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved