Sabtu, 9 Mei 2026

Masih Ada Penambahan Kasus Covid-19 di Bandung, Ternyata Ini Penyebabnya, Berikut Saran Epidemiolog

Berdasarkan laman pusat informasi dan data Covid-19 Kota Bandung, setiap harinya masih terjadi penambahan kasus positif Covid-19.

Tayang:
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.CO.ID/REZEQI HARDAM SAPUTRO
ilustrasi- 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung disarankan mengkaji ulang penerapan kebijakan adaptasi kebiasaan baru (AKB) diperketat yang sudah berjalan hampir dua bulan.

Epidemiolog dari Universitas Padjajaran (Unpad), Panji Fortuna Hadisoemarto mengatakan, selama ini masih ada transmisi kasus sehingga kalau terjadi peningkatan kontak antar masyarakat maka akan terjadi peningkatan penularan.

Berdasarkan laman pusat informasi dan data Covid-19 Kota Bandung, setiap harinya masih terjadi penambahan kasus positif Covid-19.

Baca juga: DPRD Jabar: Waspadai Kenaikan Angka Kematian Pasien Covid-19, Dorong Perencanaan Matang Vaksinasi 

Sejauh ini, tercatat sudah ada 2.181 orang terkena Covid-19 secara kumulatif di Kota Bandung.

Menurutnya, salah satu faktor peningkatan kasus yakni karena adanya sejumlah pelonggaran terhadap mobilitas masyarakat.

Meski di Kota Bandung diterapkan penutupan sejumlah jalan, namun ia menilai hal tersebut belum terlalu efektif.

Baca juga: Tingkatkan Pemahaman Bahaya & Cara Cegah Covid-19, 5 Dosen Keperawatan UBK Bentuk SARIMBID di Ponpes

"Menutup jalan itu belum tentu tepat, bisa saja itu memindahkan kerumunan, ini harus dievaluasi. Saya tidak bilang ini jelek tapi harus dievaluasi," katanya.

Ia pun menyarankan agar Tim Gugus Penanganan Percepatan Covid-19 Kota Bandung memperketat mobilitas warga guna mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih luas.

Sebab, pada 28 Oktober sampai 1 November 2020 sebelumnya Pemkot Bandung sudah memberikan kelonggaran saat libur panjang dan cuti bersama.

Baca juga: Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi Pastikan Ketersediaan Ruangan untuk Pasien Covid-19

"Dampak libur panjang kita belum lihat keseluruhannya, jadi kurang strategis kalau terlalu longgar AKB-nya. Bisa jadi ada transmisi yang belum ke deteksi dan bisa jadi meluas kalau kita sekarang terlalu longgar," katanya.

Menurut Panji, Pemerintah Kota Bandung ada baiknya melihat probabilitas terlebih dahulu, sebelum membuat kebijakan.

Sebab, dengan kondisi saat ini jika aturan dilonggarkan maka potensi peningkatan kasus akan terus terjadi.

Baca juga: Santri Positif Covid-19 di Sukabumi Bertambah Jadi 282 Orang

"Kalau longgar kemungkinan kontak satu orang dan lain meningkat, jadi selama masih ada kasus aktif yang belum dideteksi maka kemungkinan penularan akan meningkat jadi artinya ada potensinya, hal ini harus dilihat secara baik," ucapnya.

Jika kesehatan masih belum tertangani, kata dia, maka aspek ekonomi pun tidak akan pernah berjalan baik, sehingga kunci paling utama dalam pemulihan ekonomi yakni aspek kesehatan.

"Harus disadari yang menentukan arah ekonomi ya pengendalian mewabahnya, kalau wabah terkendali ekonomi bisa jalan," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved