Kreasi Singkong Kampung Adat Cireundeu, Berpacu Antara Digital dan Virus Korona
Keuntungan disimpan melalui sistem kas. Kini, mereka pun bersyukur yang bergabung mencapai belasan orang.
Penulis: Ery Chandra | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra
TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI- Pagi ini langit Kampung Adat Cireundeu biru cerah, awan-awan bergerak perlahan.
Akses jalan menuju kampung tergolong mudah ditempuh. Darii Ibukota Provinsi Jawa Barat berjarak sekitar 14 kilometer, dari pusat Kota Cimahi pun hanya perlu 23 menit berkendara.
Menjelang masuk ke wilayah kampung, nampak penanda berdiri di tengah dua persimpangan jalan menyambut pengunjung. Penanda itu bernada selamat datang dan lima pesan wangsit siliwangi yang dibangun secara gotong royong pada 2010 lalu. Ada sebuah saung kosong di sebelah kanan.
Kediaman penduduk di kampung adat tersebut didominasi oleh bangunan-bangunan yang mempertahankan kontur tanah asli. Itulah sebabnya, bentuk kampung itu berundak-undak. Dihuni sekitar 400 kepala keluarga.
Baca juga: Sekda Kota Bandung Masih Bingung Bayangkan Penerapan Physical Distancing di Panti Pijat
Segelintir orang nampak beraktivitas. Warga berlalu-lalang, ada yang merenovasi saluran air, hingga duduk sekitar warung-warung sederhana.
Menjelang siang, di sebuah beranda rumah, para perempuan tengah bersiap menuju sebuah bale berlantai dua. Mereka akan mengolah penganan berbahan utama tepung singkong.
Seusai berkumpul, sembilan orang emak lantas menyiapkan bahan, antara lain, telur, gula, mentega, hingga tepung singkong.
Deru tiga unit blender bersahutan. Perlahan, campuran bahan pada wadah pun diolah. Suasana begitu santai saat mereka membuat Egglor atau kue semprong seraya berbincang, berkelakar, hingga tertawa.
Seorang perempuan hamil delapan bulan dengan rambut terkuncir yang turut membantu cukup menyita perhatian. Ia paling anyar bergabung dengan emak-emak lainnya empat tahun lalu. Meski kelompok swadaya telah bergerak sejak 2010.
Sopiah (39), sesekali mondar-mandir berkecak pinggang. Matanya melirik ke arah adonan kue. Jari jemarinya cekatan menuangkan bahan yang telah diblender. Tak banyak lontaran kata dari mulutnya.
"Istilahnya, yang penting masak beras singkong di rumah sudah beres. Di sini bisa sambil ngobrol, menghilangkan jenuh. Kalau di rumah tiduran saja pegal. Plusnya bisa dapat penghasilan juga," ujar Sopiah tersenyum kepada Tribun Jabar di lokasi, Senin (2/11/2020).
Bersama yang lainnya, ibu yang dikaruniai sepasang putra putri ini tak setiap hari membuat ragam olahan penganan tersebut. Kondisi pandemi membuatnya hanya mampu produksi seminggu dua kali saja.
Meski sang suami, Dede Sumpena, juga mengais rezeki bertani dan mengurus ternak, dirinya tak segan menambah sumber penghasilan keluarganya.
"Tiap membantu, diupah harian. Kalau tahun lalu Rp 30 ribu. Sekarang tengah korona Rp 40 ribu. Biasanya tujuh sampai delapan jam sehari. Kecuali menjelang hari-hari besar bisa lebih," katanya.
Berjam-jam ketika kue telah matang, perempuan yang mengenakan penutup rambut dan celemek, Neneng Suminar (39), berbagi cerita awal mula kelompok swadaya diberi nama Serba Singkong.
Baca juga: Satu Tersangka Penganiaya Anggota TNI di Bukittinggi Masih di Bawah Umur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kampung-adat-cireundeu-kota-cimahi.jpg)