Kamis, 14 Mei 2026

Alat Musik Perkusi dari Bahan Limbah Asal Sumedang Ini Banyak Diminati Pecinta Musik di Bali

Berbagai jenis alat musik perkusi dari bahan baku limbah tampak berjajar rapi di sebuah rumah milik Dede Komarudin

Tayang:
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ichsan
tribunjabar/hilman kamaludin
Alat Musik Perkusi dari Bahan Limbah Asal Sumedang Ini Banyak Diminati Pecinta Musik di Bali 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Berbagai jenis alat musik perkusi dari bahan baku limbah tampak berjajar rapi di sebuah rumah milik Dede Komarudin (51) di Dusun Cipacing RT 3/2, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Saat ditemui Tribun Jabar, Selasa (27/10/2020), Dede tampak sibuk membuat sebuah alat musik gendang triple yang terbuat dari bahan baku bekas gulungan benang dan kulit sapi, kemudian dia juga membuat alat musik jimbe, terbangan, kompang limbah kayu dan gendang dari bahan limbah plastik.

Selain itu, di tempat produksi yang dinamakan Pengrajin Alat Musik Pangestu ini, terdapat Lidu-Lidu atau alat musik tiup berukuran satu meter yang terbuat dari kayu jati. Biasanya, alat musik ini dimainkan oleh suku Aborigin di Australia.

Proses pengerjaan berbagai jenis alat musik ini, dilakukan Dede dari mulai mengukir, melakukan pengecetan menggunakan vernis hingga menyetel suara supaya tidak sumbang saat dimainkan konsumen yang sudah memesan alat musik tersebut.

Baca juga: RESMI, Pemprov Jabar Perpanjang PSBB Proporsional Bodebek Hingga 25 November 2020, Tekankan PSBM

Dede juga tampak piawai saat menghias alat musik triple menggunakan cat dengan mengadopsi gambar atau konsep Suku Aborigin, sehingga alat musik itu tampak menarik dan sudah siap untuk dipasarkan.

"Saya memulai usaha ini sejak tahun 1990 setelah keluar sekolah. Awalnya, saya dagang, tapi banyak permintaan dari teman di Bali untuk membuat Triple," ujar Dede saat ditemui Tribun Jabar di rumahnya.

Ia mengatakan, saat pertama kali memproduksi berbagai jenis alat musik ini, kebanyakan di pasok ke pemilik toko di Bali karena disana banyak anak muda yang hobi bermain perkusi, terlebih pemilik toko di Bali itu kebanyakan teman-temannya.

"Jadi, kalau sudah ada pesanan dari teman saya di Bali baru saya buatin. Bahannya, untuk Triple banyak di tukang rongsokan, termasuk gendang plastik yang terbuat dari bekas drum plastik," ucapnya.

Sementara untuk proses pemasaran, kata dia, saat itu hanya mengandalkan kenalan yang ada di Bali saja, kemudian beberapa tahun yang lalu pemasarannya merambah ke penjualan online.

"Kalau dulu, penjualan itu dari pesanan teman di Bali juga banyak. Jadi, pemesan itu ngasih uang DP, kemudian saya produksi sehari, setelah barangnya dikirim, baru uang pelunasan ditransfer," kata Dede.

Ia mengatakan untuk modal awal dalam membuka usaha ini yakni Rp 50 juta. Tetapi, kata dia, sejak tahun 1990 hingga tahun 2019 omzetnya sangat menggiurkan hingga memiliki 15 orang karyawan.

Saat itu, permintaan gendang triple dari bali saja, lanjut dia, bisa mencapai 200 set per hari, belum lagi pesanan alat musik lainnya, sehingga dalam kurun waktu itu, Dede mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 20 juta per bulan.

"Itu lagi masa jaya-jayanya, bisa meraup untung segitu, karena peminat musik perkusi di Bali masih banyak, terutama para musisi jalanan atau pengamen dan ada juga peminat dari komunitas musik perkusi disana," katanya.

Baca juga: BREAKING NEWS, Habib Bahar Jadi Tersangka Lagi, Kasus Penganiayaan 2 Tahun Lalu, Ditangani Polda

Untuk harga alat Lidu-lidu berukuran 1,5 meter dijual dengan harga Rp 450 ribu, gendang Triple Rp 45 ribu satu set atau tiga biji, Jimbe Rp 100 ribu, Kompang Rp 200 ribu, dan gendang perkusi Rp 250 ribu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved