Mengunjungi Bangunan Tua Bernama Tjibadak 1921, Menyimpan Sumber Mata Air yang Tak Ada Habisnya

Masih berdiri kokoh. Bangunan tua itu berada tepat di bibir tebing perbatasan antara Kampung Cidadap, Ledeng, Bandung, dan Jalan Sersan Bajuri.

Penulis: Syarif Pulloh Anwari | Editor: Giri
Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari
Tjibadak 1921 di bibir tebing perbatasan antara Kampung Cidadap, Ledeng, Bandung, dan Jalan Sersan Bajuri yang menuju arah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Masih berdiri kokoh. Bangunan tua itu berada tepat di bibir tebing perbatasan antara Kampung Cidadap, Ledeng, Bandung, dan Jalan Sersan Bajuri yang menuju arah Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Bangunan tua itu bernama Tjibadak 1921, yang merupakan lokasi adanya sumber mata air yang sangat melimpah. 

Sumber air itu meskipun sudah ada sejak jaman Belanda, hingga kini masih tetap memasok keperluan air bagi warga di wilayah Bandung dan Lembang sekitarnya. 

Saat Tribun menyambangi ke lokasi, tampak seorang petani bernama Usid (52), warga asli Kampung Cidadap Girang, Ledeng, sedang melintas di depan bangunan tersebut. 

Usid pun sedikit menceritakan sejarah yang ia ketahui soal keberadaan bangunan tua itu yang menyimpan sumber mata air yang hingga kini digunakan untuk warga untuk keperluan sehari-hari. 

"Saya warga sini, dari cerita zaman dulu dari para kokolot di sini, bangunan ini merupakan sumber mata air yang sudah ada sejak zaman Belanda," ujar Usid, Kamis (3/8/2020).

Usid mengungkapkan sumber mata air yang berada di dalam bangunan tua itu berasal dari Gunung yang berada belakang bangunan.

"Di dalam bangunan itu, ada pipa besar, yang saya tahu itu ada sumber air yang sangat melimpah dari gunung ini," ungkap Usid.

Di lokasi lainnya, terdapat bangunan yang merupakan tempat menyimpan sumber air itu untuk disalurkan hingga ke Terminal Ledeng.

Usid memperlihatkan kondisi air yang berada di sebuah ruangan penyimpan mata air itu yang tampak sangat jernih.

Bergeser ke lokasi bangunan lainnya, terdapat sebuah tulisan, "Sayangi Air Sebelum Air Mata Kita Menangis".

Usid mengatakan, bangunan itu sudah ada sejak dia belum lahir.

Dikabarkan Dekat dengan Wanita, Sule Hati-hati Pilih Calon Istri, Anak Minta Tak Gonta-ganti Pacar

Meskipun bangunan Tjibadak ini sudah berumur hampir satu abad, dia merasa heran pada saat musim kemarau air tersebut tak pernah habis.

"Mau musim kemarau, air di sini selalu banyak. Banyak juga warga memanfaatkan untuk keperluan sehari-hari," katanya.

Namun kini, menurut Usid, sumber mata air itu dikelola oleh perusahan air milik daerah.

Industri Pariwisata di Garut Dipastikan Terimbas Ditemukannya Kasus Covid-19 di 3 Hotel di Cipanas

Di lokasi juga, tampak sebuah pelang tak jauh dari bangunan tua itu bertuliskan, "Perusahaan Daerah Air Minum Kotamadya DT II Penyadapan Air Cibadak". (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved